Artikel

Akuntanu, sang petualang sejati

Rabu, 24 Juni 2015 | 00:00:00

( Bike camp menjadikan kita menghargai kehidupan )

Apakah Anda pernah merasa dekat dengan seseorang padahal Anda belum pernah bertemu sama sekali dengan orang tersebut ?

Pertanyaan yang aneh ya ?

Tapi itulah yang terjadi pada saya; saya belum pernah bertemu dengan mas Akuntanu sama sekali kecuali beberapa kali berpapasan dijalan saat bersepeda, itupun belum “say hello” secara personal selain sekedar saling tersenyum karena saya memang belum berkenalan dengannya. Perkenalan saya setelah beberapa kali berpapasan dan  berawal dari media sosial hingga ke tahap saling berinteraksi, yang kemudian setelah melihat “sepak terjang” mas Akuntanu yang cukup menarik, saya langsung mengajak berbincang via media sosial secara intens tentang aktifitasnya yang cukup menarik, penuh pengalaman batin, yang bisa menambah wawasan bagi kita semua sebagai bekal perjalanan hidup kita selanjutnya agar lebih bisa memaknai hidup ini.

Dan, itulah yang membuat saya jadi seperti dekat; karena dalam perbincangan, setiap kata atau kalimatnya serasa mengasah jiwa saya, mempertajam rasa dan kepekaan saya.

Lalu seperti apa perbincangan yang membuat saya menjadi seperti dekat dengan mas Akuntanu ?

Inilah perbincangan mengasyikkan saya dengan seorang pria yang mengatakan bahwa mempunyai motor atau mobil rasanya tidak berguna karena Jogja adalah kota kecil yang bisa dijangkau dengan sepeda, seorang pria yang sejak bersepeda perjalanannya malah makin jauh dari pada waktu mempergunakan mobil ...

->

Saat saya mengajak berbincang dan mengajukan banyak pertanyaan pada mas Akuntanu, kebetulan mas Akuntanu sedang mempresentasikan Indonesia dari sudut pandang cyclist pada wisatawan/traveler asing, agar mereka tidak hanya sekedar mengenal Indonesia secara seklias saja, but they can “taste” about Indonesia culture  katanya mengawali perbincangan ini.

Pria kelahiran Jakarta 19 Nopember 1981 lulusan S1 universitas Jayabaya jurusan komunikasi tersebut kemudian melanjutkan perbincangan ini dengan menyebutkan bahwa profesinya adalah sebagai bicycle travel-bloger, outdoor adventure, dan berjualan online yang berhubungan dengan sepeda dan outdoor equipment, mekanik sepeda.

Seorang wiraswasta, alias pahlawan swasta ... he he

Masa masa SD-SMP-SMU mas Akuntanu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, saat kuliah sempat berhenti sebentar dikarenakan jarak lokasi dari rumah ke tempat kuliah cukup jauh, namun kemudian aktif kembali sejak 5 tahun yang lalu dan benar benar intens sejak pindah Jogja 3 tahun yang lalu.

Setiap hari mas Akuntanu selalu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi atau kadang malah jalan kaki bila jarak masih di kisaran 7 KM, kadang juga naik Bus Trans, karena memang tidak mempunyai motor atau mobil yang menurut mas Akuntanu rasanya tidak berguna karena kota Jogja adalah kota yang kecil dan kemanapun masih bisa dijangkau dengan sepeda. Mobil dan motor hanya diperlukan dalam keadaan darurat antara lain untuk mengangkut barang-barang dalam jumlah yang besar, orang sakit, balita, medan yang berat hal lain yang dan semacam , sedangkan bila hanya ke warung,  toko yang dekat atau iseng lebih baik jalan kaki atau bersepeda

Ditambahkan pula bahwa justru sejak bersepeda perjalanan mas Akuntanu malah makin jauh dari pada waktu memakai mobi; dan sejak meninggalkan mobil sebagai alat transportasi sehari hari, mas Akuntanu jadi tahu dan mendapat teman/keluarga yang sesungguhnya, bukan karena terikat dengan nilai materi, dan jadi menghargai kehidupan, banyak bersyukur bahwa sesungguhnya kebutuhan kita tidak banyak bila kita jujur ke diri kita sendiri, bukan hidup menurut standart orang lain

Dulu mas Akuntanu sempat latihan XC-AM yang sampai sekarang sepedanya juga masih ada, akan tetapi sekarang lebih menemukan arti hidup di touring ala gowes wisata, bukan touring yang sekedar membanggakan merk-kecepatan-jarak, karena mas Akuntanu bisa menikmati perjalanannya bukan sekedar angka angka speddometer; dan itu dilakukan atas dasar suka, karena perjalanan mas Akuntanu bukan perjalanan orang lain he he

Kesibukan lain yang sering dilakukan mas Akuntanu adalah mengantar orang asing, karena mas Akuntanu memang join dengan warmshowers yaitu grup para pe taouring dari seluruh negara berkumpul dan menawarkan bantuan/keramahan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan bersepeda keliling dunia; dimana hal tersebut minimal juga bisa berpartisipasi sebagai duta pariwisata Indonesia dan membangun optimisme bahwa Indonesia itu indah dan jangan selalu menyalahkan pemerintah atau keadaan, tapi bangunlah keadaan menjadi lebih baik ( mengcounter berita dan tayangan tidak mendidik yang menjadikan kita pesimis dan hedonis), serta juga menambah banyak teman atau saudara baru dari seluruh dunia, membuktikan bahwa masih banyak orang baik di dunia disaat media selalu memberitakan yang negatif; selain itu sisi positif lain adalah bisa belajar bahasa Inggris secara gratis he he

Biasanya mas Akuntanu selalu mengantar orang asing yang datang ke Indonesia/Jogja ke lokasi yang tidak populer, bukan hanya keraton-malioboro-tamansari, sambil menjelaskan sejarahnya-pandangan generasi sekarang terhadap obyek sejarah dan kenapa terbengkalai/banyak vandalisme, aktivitas keseharian warga, cara pandang masyarakat terhadap budayanya, arti dan mitos.

Untuk masalah makan mas Akuntanu selalu mengajak ke warung makan yang sederhana agar bisa berinteraksi dengan warga lokal, karena dengan cara itu mereka jadi merasakan jogja bukan sebagai turis tapi sebagai traveler (karena hampir semua dari mereka adalah penulis juga, sehinggadiharapkan mereka bisa menjadi duta pariwisata indonesia keluar negeri saat meneruskan perjalanannya, baik dan buruknya pasti ada tapi masih ada optimisme bagi mereka untuk mewartakan ke dunia bahwa indonesia itu aman dan unik)

Hanya sebatas itu sajakah rutinitas keseharian mas Akuntanu ?

Ternyata tidak.

Sebagaimana yang telah sedikit saya ulas diatas, mas Akuntanu juga mempunyai rutinitas yang cukup menarik, dan juga dapat menambah wawasan bagi kita semua sebagai bekal perjalanan hidup kita selanjutnya agar lebih bisa memaknai hidup ini. Yaitu melakukan bike camp. Kemah dengan perjalanannya mempergunakan sepeda!

Nah, saat mendengar kata kemah, yang ada dibenak orang kebanyakan adalah melakukan sebuah aktifitas yang harus meminimalkan ketersediaan apapun tidak seperti saat sehari hari, dimana kita bisa mencari apapun dengan lebih mudah, baik makanan, alat komunikasi ataupun sekedar ingin menikmati kenyamanan.

Belum lagi kita mendengar kemah kok perjalanannya memakai sepeda ...

Nah, untuk menghapus kesan menakutkan atau ketidaknyamanan saat melakukan bike camp inilah tips yang diberikan pada kita :

Tips bike camp sebenarnya sangat simple, hanya niat, it’s not only having a gear; karena banyak yang beralasan belum bisa bike camp hanya faktor peralatan dan waktu, padahal alasan terbesar yang mereka tutupi adalah rasa takut untuk mencoba keluar dari zona nyaman, saat bike camp (terutama tanpa rombongan dan bukan di tempat yang berfasilitas lengkap maka akan diuji dengan ketidaknyamanan di awalnya). Mulailah dari apa yang kita punya, saat kita semakin siap dan terlatih yakinlah bahwa yang diatas akan memberi rejeki dan kesempatan untuk meng “upgrade” semua peralatan kita, ada saatnya sembari belajar dari peralatan peralatan sederhana dulu.

Bike camp hanyalah pola awal sebelum kita mulai touring, karena touring adalah pengulangan dari beberapa bike camp.

Tipe touring pun terbagi mnjadi :

- credit card style (bermalam di hotel, dan penginapan)

- touring medium (mengandalkan SPBU-rumah teman untuk istirahat)

- self supported touring (mengandalkan camp-masak sendiri, tidak tergantung kepada orang) lain.

Untuk ijin camp biasanya mas Akuntanu  tiap trip full loaded pasti mencari lokasi sebelum jam 4 sore dan minta ijin kepada warga sekitar, amandan diperbolehkan selama kita sopan

Apabila ingin melakukan  bike camp/touring, fokuskan perhatian kepada faktor sepeda-pannier-perlengkapan tidur-perlengkapan makan-apparel. Hal yang perlu diperhatikan saat camp: kemiringan dan kondisi lokasi, arah angin dan matahari, lokasi sumber air, keamanan dari hewan/kriminal, belajar cara survival, sisanya doa dan positif thinking saja...

Untuk pemilihan tenda barangkali Anda bisa lihat di blog yang dikelola mas Akuntanu di klik di link berikut ini , kalau apparel hindari bahan jeans dan katun, belajar sistem layering pakaian agar tidak hypothermia, pannier kalau bisa memilih yang waterproof dan kuat

Tentang Touring couples berdasar pengalaman mas Akuntanu tidak ada masalah, karena setiap camp mas Akuntanu juga berdua dengan pasangannya, yang penting tidak macam2-macam selama “ngecamp”

Selama melakukan bike camp jadi banyak berpikir tentang Tuhan hidup dan kehidupan untuk kemudian banyak bersyukur (bukan sekedar karena rasa aman saja tapi juga kesehatan-usia-negeri yang indah, budaya yang beragam, karakter manusianya yang sebenarnya masih bagus, masih belum terlambat untuk memperbaiki keadaannya), serta melatih kemampuan beradaptasi, mengembalikan kepercayaan diri sebagai manusia (percaya kepada kekuatan kaki kita untuk melangkah, tangan untuk menggenggam, otak untuk berpikir, dan hati untuk bersyukur), jadi dekat dengan alam, tahu bahwa manusia seharusnya tidak mengeksploitasinya secara berlebihan melainkan memanfaatkan seperlunya saja, tahu bahwa alam itu indah jadi kenapa kita malah tertib menjaga yang buatan manusia sedangkan yang alam asli dirusak, tidak berbangga dengan merusaknya (demi selfie sampe ngerusak alam)

Biasanya mas Akuntanu bike camp berdua dengan pasangannya karena untuk berbagi tugas membuat video perjalanan, kadang bertiga, intinya tidak dalam jumlah besar karena terlalu banyak person membuat kurang menikmati dalam menangkap detail perjalanan, kalau jumlahnya sedikit lebih enak untuk kerja tim, mengajari etika dan disiplin bukan hanya soal gowes tapi juga masalah menjaga lingkungan sampai benar-benar menjadi kebiasaan dikseharian (termasuk tidak membuang sampah sembarangan, tertib lalu lintas sampai lampu merahnya angka nol, berhenti dibelakang zebracross, tidak gowes di trotoar, tidak blocking jalan, dll);  jadi, walau hanya gowes sendirian juga tetap terbiasa tertib (walau diklakson, biarkan saja)

Dan saat bike camp tidak mempersoalkan merk sepeda, karena saat camp yang dinimmati adalah petualangannya, bukan merk sepedanya ...

Setiap perjalanan gowes atau bike camp  selalu ada foto-cerita dan belakangan ini adalah video; selain untuk koleksi pribadi juga untuk membuat semacam counter tayangan tv yang kurang mendidik, memotivasi orang untuk bersepeda-traveling tanpa merusak, belajar menghargai sejarah; semua dokumentasi tersebut juga dipublish di blog-fb-fanpage karena beberapa teman dari luar negeri juga mengikuti cerita petualangan mas Akuntanu, sehingga terkadang memakai bahasa Inggris untuk tulisannya; sebagian juga diambil untuk web pemerintah bagian pariwisata untuk arsip, dan juga titipan dari warga disekitar lokasi yang di kunjungi supaya lokasi mereka terangkat dan membantu perekonomian/perbaikan fasilitas ditempatnya; yang terkadang kemudian  dikelola lebih bagus tapi ada juga yang jadi buruk karena mereka lupa diri dan hanya fokuspada uang saja,.

Melalui tulisannya mas Akuntanu juga mengajak orang bersepeda minimal untuk jarak dekat, untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor dan membuktikan bahwa untuk berpetualang tidak harus memakai ataupun mempunyai sepeda yang  mahal.

Tulisan tulisan mas Akuntanu bisa Anda temukan di goweswisata.blogspot.com dimana semua perjalanan wisata sepeda mas Akuntanu cukup menarik untuk kita nikmati, selain hal tersebut juga ada intermezo tentang bagaimana bersepeda yang pada akhirnya membawa mas Akuntanu bisa melihat kehidupan lebih baik lagi, ibarat berdoa seperti bersepeda, semakin sering diulang ulang maka akan membawa kita semakin dekat ke tujuan ...

Sebuah intermezo yang lucu tapi juga menarik bukan ? he he he

Saat berbicara tentang kesan bersepeda di Jogja dan persaingannya dengana kendaraaan bermesin, jawaban mas Akuntanu secara netral adalah; perkembangannya semakin banyak orang yang bersepeda (walau hanya weekend) namun kekurangannya terkadang tidak mempunyai jiwa/etika sebagai seorang pesepeda (memakai trotoar-mlanggar lalulintas-blocking jalan). Bersepeda bukan sekedar meningkatkan status (sepeda mahal), ikut trend (hanya bersepeda saat ada acara gowes ramai-ramai tapi di kesehariannya memakai motor lagi dan motor lagi), menciptakan kasta (pamer brand), bersepeda seharusnya bukan sekedar sehat fisik jasmani saja tapi juga menyehatkan jiwa-otak-rohani (melatih kesabaran, selalu tertib lalu lintas walau diklakson, kalau kita tertib kenapa harus risih); juga, seharusnya mampu meredam ego (memaksakan selfie dengan sepedanya walau mengorbankan kelestarian alam/pencemaran; ingat ada minyak rantai-grease sepeda jadi jangan celup-celup sepeda ke sumber air kecuali terpaksa harus menyeberanginya), bukan berteriak goweser sejati hanya karena mampu menanjak tanpa TTB/memecahkan rekor strava; pesepeda sejati adalah mereka yang mampu meredam egonya, berbagi inspirasi cerita perjalanannya bukan berbagi egonya; “.... itu beberapa yang saya dapat dari teman teman yang sudah menginspirasi saya ... “ katanya merendah ...

Mengenai persaingan dengan kendaraan bermotor katanya; jika Anda tertib maka mereka juga akan menghargai Anda, karena masih ada beberapa pemakai kendaraan bermotor  yang tertib juga dan bersedia berbagi. Kalau yang melanggar ya sama saja, pesepeda juag banyak yang melanggar, tergantung individunya. Kalau mau mengajak masyarakat beralih kesepeda maka buatlah mereka respect terhadap apa yg Anda lakukan, dan hal paling lucu adalah saat masyarakat awam mengatakan wah enak ya kerjanya hanya main sepeda melulu, hmmm...ok berarti sepeda dianggap bermain dan menyenangkan; nah kalau sudah tahu bersepeda itu menyenangkan knp anda tdk mencoba hehe ...

Perbincangan saya akhir dengan sebuah pertanyaan bahwa apa tanggapan mas Akuntanu tentang sering diadakannya funbike dengan hadiah kendaraan bermesin ?

Inilah jawaban mas Akuntanu yang cukup logis, menarik dan cukup menggelitik bahwa Funbike berhadiah motor adalah sesuatu hal yang paling menggelikan; hal tersebut membuktikan tujuan akhir panitia adalah uang. Diselenggarakan dan diikuti oleh mereka yang belum paham bagaimana bersepeda bisa membawa perubahan berarti terhadap pola pikir dan hidup Anda;  bukan sekedar dalih sehat; karena kalau kita coba logika bila harga 1 motor = 15jt maka bisa mendapatkan puluhan toolkit+gembok sepeda+helm+gloves+ban dalam-rims+aksesoris sepeda lainnya; otomatis jumlah hadiah bakal lebih banyak, maka kesempatan menang lebih banyak. Tapi kalau funbike berhadiah "hanya" printilan sepeda apakah jumlah peserta akan semeriah jika hadiahnya mobil ? Rasanya yang ikut pasti hanya yang maniak sepeda saja, karena mereka tahu sepeda sudah jadi bagian hidupnya apapun merk sepedanya.

Di Jakarta mas Akuntanu pernah menyelenggarakan funbike dengan hadiah total semua berupa printilan sepeda, dari mulai helm-protektor-gembok-rantai-grupset-dll, hasilnya cukup banyak diminati juga karena mas Akuntanu optimis bahwa itu semua mungkin; asal bisa meyakinkan sponsornya. Sedangkan disini semua sponsornya produk motor; jadi mau bagaaimana lagi, memakai embel-embel termurah (padahal terkena jerat kredit), terlincah (selap selip langgar lalu lintas), tercepat (emangnya disirkuit, ngantri cuy), ramah lingkungan (bahan bakarnya aer?)

Ha ha ha  sebuah akhir perbincangan yang lucu menarik dan penuh sentilan halus yang cukup masuk akal, yang seharusnya tidak sekedar untuk kita aminkan saja dalam wacana namun juga dalam emplementasinya.

Terima kasih mas Akuntanu telah berkenan menyediakan waktu untuk berbagi banyak pengalaman dan pelajarannya; mudah mudahan semua itu benar benar bisa semakin mengasah jiwa, mempertajam rasa dan kepekaan kami semua.

Dengan sepeda, Anda telah menjadi seorang petualang sejati, bukan sekedar petualang dalam arti fisik semata, tapi petualangan memaknai hidup ini dengan serangkaian terapan filosofi Anda sendiri, untuk makin menghargai hidup dan kehidupan.

Salam hangat dan hormat saya

Salam Gowes!

Catatan :

~ Foto foto diambil di Facebook mas Akuntanu

~ Berikut adalah lokasi bike camp yang di rekomendasikan mas Akuntanu :

Utara : kalikuning, mulai dari plunyon sampai keatasnya cangkringan – kinahrejo - pasar bubrah (tapi untuk pemula di plunyon saja kalau mau mencoba karena setidaknya masih terbilang ada fasilitas darurat kalau ada hal hal yang tidak kita inginkan)

Timur : embung nglanggeran - curug gede - hutan pinus dlingo - ratu boko - candi barong (paling profesional embung nglanggeran), wanagama

Selatan : pantai parangtritis-ngeden-ngerenehan dan pantai-pantai di Gunung Kidul, pantai glagah juga bisa

Barat: kalibiru-waduk sermo-samigaluh sidoharjo/siluwok, kebun teh nglinggo, gunung lanang, puncak moyeng

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas