Artikel

Dengan Sepeda, Towil Menggerakkan Pariwisata dan Roda Perekonomian Desanya

Senin, 23 Februari 2015 | 10:45:00

Sehari bersama mas Towil)

Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB saat saya sampai di desa Bantar Kulon, Sentolo Kulon Progo. Sebuah desa yang asri dengan penduduk kurang lebih sekitar 70 KK . Di Bantar, saya memang menyempatkan diri untuk berkunjung di rumah Towil atau sering disebut Mas Towil ataupun Pak Towil.

Kalau dilihat secara sepintas, rumah Mas Towil seperti juga rumah-rumah yang lain terlihat biasa saja dan tak ada yang istimewa. Baru setelah saya bertegur sapa dan dipersilahkan masuk ke rumah mas Towil dan menikmati hidangan sambil ngomong sana-ngomong sini ada terasa suasana lain yang sempat saya rasakan.

Yang pertama tentunya adalah sambutan hangat dari tuan rumah sangat saya rasakan terutama karena cara menyambutnyapun dengan gaya yang santai. Dan kesantaian itu juga didukung dengan gaya dan tata letak serta isi  ruangan bernuansa “Jogja” banget; dengan kursi gaya lama yang terbuat dari rotan dan asesoris lainnya yang bersifat jadul. Selain itu diruangan tersebut juga terlihat banyak hiasan-hiasan dinding maupun pigura yang dipajang yang hampir semua adalah berhubungan dengan masalah “Sepeda”; entah itu asesoris dan kumpulan pin komunitas sepeda maupun foto-foto kegiatan bersepeda Mas Towil baik dengan artis-artis maupun juga dengan para pejabat. Di ruangan tamu tersebut juga ada berbagai pesan berupa tulisan yang dipajang; kebanyakan tulisan tersebut adalah pesan dan kesan saat bersepeda bersama dengan mas Towil baik itu dari para artis, pejabat maupun turis mancanegara yang pernah mengunjungi dan melakukan perjalanan wisata dengan mas Towil di desa ini.

Di sela perbincangan saya dengan mas Towil; saat itu terlihat ada seorang wanita dari sebuah media terkenal datang bertamu dan ingin mewawancarainya; maka sejenak saya keluar ruangan tamu untuk memberi kesempatan pada tamu tersebut. Disaat itulah saya mencoba berkeliling disekitar rumah mas Towil.

Rumah dengan ukuran 8 x 10 meter dengan gaya “geblok” yang bernuansa klasik dan satu bagian lagi dibelakang ternyata juga mempunyai dekorasi yang juga sangat unik. Pada bagian belakang atau kamar mandi, didalamnya tersedia dua kloset yang berbeda model yaitu kloset model duduk dan kloset model jongkok; dan kamar ini dinamai mas Towil dengan kamar mandi demokrasi. Sebuah kamar yang selalau menarik perhatian saat turis mancanegara melihatnya.

Kenapa disebut kamar mandi demokrasi ? Karena didalam kamar mandi tersebut disedikan dua buah kloset langsung. Jadi tinggal pilih suka yang mana … ah demokrasi ala mas Towil yang jenaka …

Usai melihat-lihat ruangan belakang saya berputar kearah samping rumah mas Towil yang tak lain adalah rumah tinggal mertuanya. Saat berjalan melalui sebuah pintu yang terbuka; mulut saya berdecak kagum; karena di ruangan balik pintu tersebut terhampar banyak sepeda onthel dengan berbagai merk dan buatan dari berbagai Negara.  Rasa penasaran saya langsung menuntun kearah deretan sepeda-sepeda yang layaknya seperti pasar sepeda tersebut untuk melihat secara lebih dekat agar bisa melihat setiap detail masing-masing sepeda. Dari paparan cerita mas Towil seusai wawancara berakhir, sepeda-sepeda dengan harga bervariasi, dari harga 5 jutaan sampai 50 jutaan tersebut ternyata memilki ke khas an sendiri-sendiri; itu bisa dilihat dari rangka-rangka sepeda tersebut; salah satunya yang menonjol adalah sepeda Army Swiss, dimana letak remnya berada ditengah roda sepeda depan; sedangkan kalau di sepeda pada umumnya rem ada di kedua sisi yaitu disebelah kiri dan kanan.

Puas dengan melihat-lihat jajaran sepeda-sepeda saya langsung kembali ke tempat dimana mas Towil masih diwawancara. Demi menghilangkan kejenuhan saya mencoba mengabadikan wawancara yang lumayan lama tersebut ke dalam kamera video saya. Itung-itung sambil mengumpulkan hasil wawancara-wawancara mas Towil dengan berbagai media dan berbagai momen bersepeda. Saya berpikir suatu saat hasil rekaman-rekaman saya dengan sang kreator bersepeda ini pasti berguna sebagai bahan inspirasi bagi orang lain.

Usai wawancara resmi, mas Towil mengajak sang wartawati untuk melihat-lihat koleksi sepedanya sambil menerangkan satu persatu ciri khas sepeda masing-masing seperti yang sedikit saya sampaikan diatas. Wuah … sedikit pusing juga untuk bisa ”niteni”(menghafalkan) kekhas-an sebuah sepeda secara detail; apalagi dalam jumlah yang tidak sedikit!!!

Sejenak kemudian usai juga acara inspeksi sepeda tersebut; tapi barangkali karena begitu asyiknya ngobrol dengan mas Towil sang wartawati masih juga bertahan ditempat mas Towil walaupun kali ini hanya sekedar omong-omong yang (lebih) santai dan ringan.

Dan karena saya lihat dirumah samping ada ibu mertua mas Towil maka saya menghampirinya untuk ngobrol tentang mas Towil dari sisi pandang sang ibu mertua … J

Saat saya hampiri ibu mertua mas Towil yang lugu seperti kebanyakan perempuan desa lainnya ternyata sangat ramah dan bahkan pandai bercerita walaupun dalam aksen seorang wanita desa dengan segenap keluguannya.

Ibu mas Towil memulai ceritanya dengan membuat sebuah flashback mas Towil; dari awal sebelum mas Towil memulai “usaha mulianya” hingga sampai mas Towil bisa menggerakkan pariwisata dan roda perekonomian desanya.

“ …Bapaknya itu dulu bekerja di sebuah kerajinan yang hasilnya di eksport ke luar negeri; tapi saya sendiri tidak tahu apa alasannya sehingga kenapa tiba-tiba bapaknya keluar dari perusahaan itu … “ demikian Ibu mertua mas Towil mengawali ceritanya; o iya, ibu mertua mas Towil selalu berkata “Bapaknya” bila menyebut nama mas Towil; sebuah sebutan penghormatan dari seorang ibu mertua walaupun itu tidak dikehendaki mas Towil …. Wuah hebat bener mas Towil ini … ada sebuah wibawa yang begitu tinggi di depan mertuanya, walaupun dalam kesehariannya saat berkumpul dengan teman-temannya terkenal sangat dan bahkan paling santai, sehingga menurut saya sangat pas bila mas Towil tetap menjadi ketua Komunitas Pagoeyoban Onthel Djokdja (Podjok) yang menaungi kurang lebih sekitar 600 anggota. Karena bagaimanapun sebuah komunitas memerlukan seorang figur yang bisa mengayomi dan bisa ngemong semua anggotanya; baik dari latar belakang tingkat pendidikan; ekonomi maupun latar belakang usia.

Berlanjut dengan cerita ibu mertua mas Towil …

Paska pengunduran diri mas Towil dari pekerjaan di perusahaan eksport import tersebut ibu mertua mas Towil juga tidak mengetahui secara pasti apa kegiatan mas Towil sehari-hari; hanya saja yang masih selalu diingat ibu mertua mas Towil adalah waktu pertama kali mas Towil malam-malam pulang dengan membawa dua buah besi tua yang berkarat dan berkata : “… bu, apa boleh kamar ini saya pakai untuk menyimpan sepeda  ….”

“ Monggo … monggo … “ kata ibu mertuanya singkat tanpa banyak bertanya; walaupun dalam benaknya sebenarnya juga banyak pertanyaan yang bermunculan yang salah satunya adalah, untuk apa sih besi tua berkarat itu dibawa pulang …

Nah, seiring berjalannya waktu; koleksi besi tua berkarat yang bukan lain adalah sepeda itu makin banyak dan makin banyak. Tapi inipun belum menghilangkan rasa penasaran yang ada di benak mertua mas Towil …

Barulah saat ada sebuah rombongan wisatawan mancanegara memakai bus datang ke rumah mas Towil dan diajak berkeliling dari satu sudut desa ke sudut desa yang lain, semua pertanyaan yang ada di benak mertua mas Towil sedikit demi sedikit  terjawab sudah.

Ternyata mas Towil mencoba mengajak wisatawan mancanegara untuk menikmati suasana desa yang asri tersebut dengan memakai sepeda yang selama ini dikira hanya sekedar besi berkarat dan tak bermanfaat!!!

Dan seiring dengan seringnya para wisatawan mancanegara berkunjung ke rumah mas Towil maka banyak pula dampak yang dialami oleh keluarga mas Towil dan juga lingkungan sekitar rumah mas Towil. Dan tidak tahu dari mana  awalnya, berita tentang aktifitas wisata ini jadi terendus juga akhirnya oleh beberapa media masa baik itu media cetak maupun media elektronik.

“ … saya sempat ditanya oleh sebuah stasiun TV sambil diambil gambarnya, lalu saya bilang … wah mas … saya itu sudah tua dan orang desa engga tahu apa-apa mbok yang diwawancarai anak saya saja … “ kata ibu mertua mengisahkan saat dirinya diwawancara oleh sebuah TV nasional, “ … dan saya tahu kalau saya diambil gambarnya saat bapaknya (Mas Towil) mengajak saya untuk melihat video yang ternyata berisi saya … “ lanjutnya.

“ … demikianlah mas ceritanya yang semua berawal dari dua buah besi tua dan berkarat,…. ternyata ada rahasia Tuhan dibalik itu, dan saya hanya bisa nenuwun (berterimakasih) sama Gusti saja bahwa anak dan menantu saya sekarang bisa hidup dengan layak melalui yaitu tadi yang saya sebut besi tua dan berkarat … “ pungkasnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB dan segera semua yang ada dirumah mas Towil termasuk saya ikut mempersiapkan tempat dan prasarana;  karena pada hari itu akan ada rombongan tamu wisatawan mancanegara yang akan berkunjung dan berwisata di desa tersebut.

Dan sesaat setelah beberapa persiapan usai, datang juga rombongan wisatawan mancanegara yang ditunggu-tunggu sejak pagi setelah sempat molor karena ada beberapa acara tambahan yang dibuat secara mendadak.

Wouw … tengkuk saya langsung merinding begitu tahu ternyata teman-teman mas Towil yang ada ditempat itu masing-masing langsung bergerak cepat sesuai tugas dan pekerjaan masing-masing …

Seorang penyanyi dengan menyanggul gitar akustik langsung menyanyikan lagu-lagu sambutan yang disesuaikan dengan suasana Negara dimana mereka berada, dan … tanpa di komando para wisatawan mancanegara tersebut begitu turun dari bus …. Langsung berdansa berpasang-pasangan!!! Sungguh meriah bak hilang sudah semua kepenatan dari pagi setelah mereka berkeliling ke daerah-daerah wisata di Jogja  yang kebetulan pada saat itu udara sangat panas …

Dan begitu dua-tiga lagu dinyanyikan maka para wisatawan tersebut, dipersilahkan mengambil sepeda masing-masing, disuruh memilih satu satu sesuai selera mereka; riuh juga saat mereka memilih dan mengomentari sepeda-sepeda yang mereka pilih. Bahkan ada beberapa orang yang mencoba berganti sepeda; benar-benar  menikmati rasa bersepeda dengan “rasa” sepeda yang berbeda … J

Sejurus kemudian mulailah wisata petualang bersepeda menyusuri sudut desa ke sudut desa yang lain; sudut sawah ke sudut sawah yang lain,  hanya terkadang kayuhan mereka dihentikan saat melihat hal-hal yang jarang mereka lihat di negerinya  diantaranya adalah saat ada yang membajak sawah,  memanen padi. Bahkan yang membuat saya terkejut; mereka diajak mas Towil untuk turun mencoba ikut membajak. Dan ternyata momen inilah yang membuat mereka sangat terkesan; itu terlihat saat mau berpisah dan mengatakan “ … I’m impresed……, I’ll be back.. “ sambil terus memeluk semua keluarga mas Towil …

Dan momen yang membuat para para wisatawan sangat terkesan sebenarnya sangat banyak; misalnya  saat tiba di rumah seorang pembuat tempe; mereka langsung disuruh membuat dari awal sampai selesai; dan hasilnya diberikan pada wisatawan yang membuatnya dengan pesan selang dua hari dibuka dan disuruh menggoreng di Hotel ….

Di momen inipun mereka terkesan karena merasa dihargai hasil jerih payahnya membuat tempe; walaupun hanya dengan imbalan sebuah calon tempe yang belum jadi !!!

Begitu juga saat melihat orang desa memanjat pohon kelapa tanpa memakai tangga dan hanya dengan kaki seperti melompat-lompat.

Masih banyak momen lain yang menarik dan membuat mereka terkesan sebenarnya; hanya saja yang ingin saya tekankan disini adalah; pada setiap momen entah itu di tempat pembuat tempe; di saat menyuruh orang desa memanjat pohon kelapa maupun disaat wisatawan ikut membajak sawah; masing-masing person mendapat imbalan dari mas Towil dengan jumlah uang yang melebihi dari pendapatan mereka sehari-hari.

Inilah yang membuat saya sangat terkesan akan pribadi seorang Towil; lelaki dengan usia 36  tahun dengan nama asli Muntowil yang sebenarnya  bahkan bukan warga asli Jogja melainkan warga Asli Boyolali.

Dan yang lebih membuat saya terkagum-kagum adalah terobosan besar seorang towil yang bisa membuat desanya bergerak; baik dari segi pariwisata maupun roda perekonomiannya.
.

Towil; bukanlah siapa-siapa; Towil hanyalah seorang pemuda yang tingkat pendidikannya juga tidak terlalu tinggi. Namun daya imajinasi, daya improvisasi serta daya kreativitasnya yang tak habis-habisnya dan tentu saja dengan segenap ketulusannya membangun desa Baran; membuat saya tercenung; membuat saya ikut malu; bahwa ternyata sekian banyak dari kita, hanya sekedar mencari ijazah dan menggantungkan penghasilannya dari sebuah instansi yang barangkali akan membuat daya imajinasi dan improvisasi serta rasa empati kita pada lingkungan sekitar kita makin berkurang

Mas Towil; terima kasih telah berkenan memberikan sejuta pengalaman hidup yang sangat berharga bagi saya, walaupun hanya sehari saya berada di rumah Anda, dan mudah-mudahan coretan ini bisa memberi inspirasi bagi yang lain. Terutama bagi mereka yang ingin kembali untuk membangun desanya …

.Teristimewa untuk mbak Fawaizzah Watie yang ingin kembali dan membangun desanya …

Artikel ini saya persembahkan untuk Anda, sebagai dorongan untuk suatu tujuan yang mulia ...

Salam Gowesss ...

Note : Ada satu perkataan dari para wisatawan yang juga selalu saya ingat; mereka mengatakan bahwa tidak habis pikir; di desa Bantar, seorang Towil, bisa mempunyai berbagai merk sepeda dan dari berbagai negara dengan kwalitas atau keadaan masih bagus-bagus!!!

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/09/23/dengan-sepeda-towil-menggerakkan-pariwisata-dan-roda-perekonomian-desanya-267161.html

Foto-foto sehari bersama mas Towil  :
.


.


.



.

.


.


.


.


Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas