Artikel

Gowes berburu makanan di sentra pembuat ingkung

Senin, 24 Oktober 2016 | 00:00:00

  
Mendengar kata “ingkung”, Anda semua pasti membayangkan sebuah makanan yang lezatnya begitu bulat.
Namun tahukah Anda bahwa yang bisa dibuat ingkung itu hanya ayam kampung saja ?
Dan tahu jugakah Anda filosofi kenapa memasak ingkung ?
Berikut ini bisa Anda simak sambil mengikuti perburuan saya mencari ingkung bersama Mbah Kung Endy yang pernah saya tulis di rubrik sosok di web saya dengan judul petouring dan petarung yang rendah hati, yang juga saya posting dan menjadi HL di Kompasiana pak Dwi Riyanto pengelola Desa Wisata Grogol dan juga beberapa teman goweser yang lain di pusatnya masakan ingkung dibuat ...

.

Sebagaimana biasa kami berangkat bersepeda dengan titik kumpul di Tugu pada pagi hari sekitar jam 06.00 WIB.
Saat beberapa teman yang sudah ada janjian sebelumnya berkumpul, kami semua pun berangkat kearah selatan dengan rute pojok beteng kulon keselatan.
Tujuan kami yang pertama adalah sebuah tempat atau rumah makan ingkung yang sedang ngehits dikarenakan bangunannya yang begitu menarik.
Meskipun perjalanan berangkat jalannya datar datar saja bahkan cenderung menurun karena gaya bersepeda kami begitu santai atau yang sering saya istilahkan dengan kata #woles maka sampai di tujuan memerlukan waktu sekitar satu setengah jam.
Hanya saja kami sedikit kecewa karena saat kami tiba disana rumah makan ingkung yang kami maksud ternyata tutup dikarenakan adanya merti desa yang dipusatkan dirumah makan tersebut.
Maka untuk sedikit mengurangi kekecewaan kami, sebagaimana biasa kami melakukan foto foto bersama, tentu saja saat itu atas ijin panitya setempat demi mengobati kekecewaan kami.


Setelah sejenak berfoto ria maka kami memutuskan untuk mencari rumah makan ingkung yang lain, hanya saja beberapa rumah makan ingkung yang kami lalui dan cari kebanyakan tutup karena adanya kegiatan merti dusun tersebut.
Maka kami pun melanjutkan pencarian yang akhirnya seperti perburuan ini ke tempat yang lain.
Oh ya, sebelum melanjutkan cerita perjalanan perburuan ini saya ingin sedikit menjelaskan kenapa hanya aya kampung saja yang bisa dimasak ingkung dan apa filosofinya dibalik masakan ingkung itu sebagaimana diawal sudah saya katakan.
Ingkung merupakan salah satu makanan khas Jawa yang berbahan dasar utama ayam kampung yang dibumbui dan disajikan satu ekor utuh tidak dipotong potong layaknya sajian ayam yang umum ada di Indonesia. Ingkung dibuat dari ayam jago atau ayam janatan dengan umur tertentu.
Dalam jurnal pergeseran nilai nilai Religius Kenduri dalam tradisi Jawa oleh masyarakat perkotaan, ayam atau ingkung ini memiliki filosofi yang cukup dalam yakni manusia diharapkan dapat berperilaku seperti ayam, yaitu apabila diberi makan tidaklah langsung dimakan akan tetapi dipilih dahulu mana yang baik dan mana yang tidak, dengan demikian manusia diharapkan mampu memilah mana hal baik yang harus dilakukan dan mana hal buruk yang harus ditinggalkan.
Makna lain lagi, Ingkung (njekungkung) diambil dari istilah Jawa yang memiliki filosofi dari karakter ayam jago. Ayam jago memiliki ciri khas gagah berani, sok jagoan, suka mengawini banyak ayam betina kemudian meninggalkannya. Ayam ingkung diikat ketika dimasak melambangkan bahwa karakter atau nafsu yang dimiliki harus diikat / ditundukkan sehingga sapat “njerekungkung” yang arti kiasannya adalah sujud pada sang pencipta.
Mengenai mengapa yang bisa dimasak ingkung hanya ayam kampung saja jawabannya sangatlah sederhana yaitu berhubungan dengan proses memasak atau merebusnya yang cukup lama.
Dan karena proses memasaknya yang cukup lama tersebut hanya ayam kampunglah yang bisa dimasak karena ayam kampung memiliki serat daging yang lebih liat dari pada ayan jenis broiler.
.
Setelah beberapa saat kami berputar dan berkali kali melihat dari satu rumah makan ke rumah makan yang lain maka kami memutuskan untuk memilih di salah satu rumah makan ingkung ayam kampung yang ternyata setelah kami mencobanya rasa ingkungnya cukup lumayan enak dan empuk. Tempatnyapun cukup luas bisa masuk lewat dua sisi dan mudah dijangkau.

 


Meski demikian saya tetap penasaran untuk suatu saat akan kembali ke rumah makan ingkung yang saya tuju pertama kali yaitu rumah makan ingkung kuali, dan disuatu saat yang lain akan saya coba lagi dengan tujuan rumah makan ingkung yang lain agar bisa tahu cita rasa maing masing rumah makan ingkung tersebut.
Jadi, perburuhan rumah ingkung belum usai, akan terus berlanjut.


Selepas kami menikmati ingkung ayam, kami melanjutkan perjalanan bersepeda saya ke sendang Krebet. Namun sendang krebet yang sekarang airnya sudah dibuat bangunan semen berkeliling justru kurang indah dan alami seperti saat sebelum dibuat dengan pagar air keliling dengan semen.


Namun meskipun demikian tanjakan berkeloknya di jalan setapak yang sejuk alami cukup membuat kami senang karena bisa didokumentasikan dalam sebuah gambar yang cukup menarik.


Demikian perburuan saya di pusat makanan ingkung ayam kampung di sentranya yaitu di Desa Kalakijo, Andai Anda ingin mencoba juga sambil berwisata sepeda dengan cara #woles, saya bersedia menemani ...

Selamat berburu

Photo by Ana M & Daniel

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas