Artikel

Hatiku tertambat di perbatasan (1)

Minggu, 09 Oktober 2016 | 00:00:00

Selalu ada keriangan di setiap kelokan jalan
Selalu ada cerita dan kenangan di jalan setapak
Dimana sesampai diujung, hatiku tertambat
Kebeninganmu
gemericik aliran cintamu
tak pernah jeda menyemai dahagaku
bagaimana kutak tertambat, pesonamu tak pernah pendar menebar, menggetar segenap jiwaku
...

Setiap langkah di perjalanan hidup kita, kita pasti punya kenangan
Ada kenangan yang terngiang seklias, namun ada pula kenangan yang mengendap, membekas hingga tak mudah untuk melupakan, dimana di setiap saat bila kita melihat sesuatu yang sedikit saja ada hubungannya dengan apa yang kita suka itu, kenangan kembali terbuka, bahkan melebar hingga sampai kesudut sudut kecil, ke segenap relung relung detail yang sudah terlanjur tersimpan dalam hati kita yang paling dalam.

Dalam setiap perjalanan, kita selalu mencatat, mencatat dalam hati, dan mendokumentasikannya dalam jiwa untuk kemudian kita ungkapkan kembali kenangan perjalanan yang begitu berkesan tersebut dalam bentuk uraian alur perjalanan dari hulu hingga hilir, meski hanya dalam batin sendiri, meski tidak tersampaikan pada yang lain ...
Tapi kenangan itu kali ini harus saya sampaikan, kenangan yang saya nikmati di sepanjang perjalanan, hingga ke penghujung perjalanan, yang berakhir dengan kekaguman hingga membuat hati saya jadi tertambat.

--
Adalah dibilangan ratusan masa yang lampau
Seorang bijak bersabda
Saya dan kekasih saya akan menjumpai sebuah masa
Dimana kita bisa duduk berdua
Memandang hamparan sawah yang subur menghijau
Sambil bercengkerama, memupuk mimpi menebar harap
Tentang masa bahagia dan sejahtera
Hanya satu syarat, yaitu aliran sungai opak dan oya bersatu

Dan, ketika masa itu tiba, sabda telah menjadi nyata
Terima kasih Sunan Kalijaga, sang penyabda yang berwawasan bak tak terbatas
Terima kasih Sri Sultan HB IX, sang pemimpin yang mengurai sabda menjadi realita

--
Itulah sekilas nukilan dari sabda sunan Kalijaga yang kemudian direalisasikan oleh Sri Sultan HB IX dalam sebuah proyek dijaman penjajahan Jepang, yang menghasilkan sebuah aliran selokan panjang yang bisa mengaliri ribuan hektar sawah yang pada akhirnya membuat rakyat Jogja makmur.
Proyek kerja paksa Jepang tersebut sebenarnya adalah taktik Sri Sultan agar rakyat Jogja tidak dipekerjakan keluar Jogja yang biasanya berujung tidak bisa kembali, dan sekaligus sebagai cara agar rakyat Jogja kelak bisa makmur atas hasil kerja membuat aliran selokan tersebut.

Itulah kenapa ketika berbicara tentang Ancol Bligo sebagai alur awal aliran sungai yang menghidupi banyak orang, untuk kemudian ada yang mengajak melakukan perjalanan bersepeda susur selokan, saya selalu antusias untuk melakukannya, dengan segenap emosi dan empati saya atas apa yang telah diperbuat pendahulu kita, yang barangkali entah kapan ada yang bisa melakukan hal yang sama, meski dalam kontek berbeda ...

Disitulah hati saya tertambat, tertambat di perbatasan kota, antara Magelang dan Jogja ...

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas