Artikel

Hingga di kayuhan Ramadhan 2015

Sabtu, 27 Juni 2015 | 00:00:00

Awalnya adalah, disaat senja saya melihat beberapa anak muda mengayuh sepeda  membentuk dalam kelompok kelompok di sepanjang ruas ruas jalan Jogja; yang pria rapi dan ganteng begitu juga yang wanita, cantik cantik  dan modis

Saat saya bertanya  siapa mereka, mereka menjawab dalam empat kata, tapi kemudian saya lupa apa kata yang mereka ucapkan saat itu.

Setelah sekian bulan kemudian saya baru tahu siapa dan apa saja aktifitas mereka  dibalik kesukaan mereka mengayuh sepeda, terutama adalah siapa pencetus dibalik aktifitas yang ternyata tidak hanya sekedar bersepeda saja; melainkan juga melakukan berbagai aksi positip baik aksi sosial antar pesepeda maupun aksi menanggapi kondisi lingkungan dan yang sedang berkembang di kota Jogja yang makin tidak nyaman ini ...

Pencetus dibalik semua itu pada dasarnya tidak ingin muncul di permukaan atau menonjolkan diri, akan tetapi ide ide mereka yang selalu spontan dan begitu penuh solusi di tengah kebuntuan atau stagnasi, mau tidak mau akhirnya memunculkan nama nama mereka setelah beberapa media cetak Jogja mewawancarai mereka.

Untuk itu silahkan simak lebih jauh lagi tulisan saya berikut ini yang kontennya pernah saya tulis di salah satu media cetak Jogja dan beberapa kali di Komasiana dan menjadi HL

Meski ini bukan ceramah Ramadhan atau semacam kultum, namun melihat kiprah mereka yan saya ulas dibawah ini serasa melihat langsung sebuah contoh yang perlu kita lakukan juga, apalagi disaat bulan Ramadhan ini, bulan yang penuh berkah dan Rahmat

Dalam sebuah tulisan saya yang berjudul Inilah gaya hidup anak muda Jogja saat ini,  saya uraikan bahwa di Jogja ada kegiatan bersepeda di hari Jumat terakhir pada setiap bulannya, dengan nama Jogja Last Friday Ride (JLFR), sebuah kegiatan yang sangat positif, yang bisa mengurangi atau menghilangkan kegiatan negatif anak muda di Jogja yang kadang bahkan sudah ada yang terjerumus dengan obat-obatan terlarang.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekedar kegiatan bersepeda saja, melainkan juga kegiatan sosial, diantaranya adalah membuat tong sampah secara swadaya yang diletakkan di sepanjang jalan Mangkubumi; juga kegiatan membantu para pengemudi “becak kayuh” yang keberlangsungan hidupnya semakin tergeser oleh becak motor yang makin menjamur dan sepertinya malah akan dilegalkan oleh pemerintah kota Jogja.

Aktifitas positif lain yang telah dilakukan adalah melakukan geraakan “Warga Berdaya” dimana gerakan tersebut antara lain melakukan bersih bersih sampah, terutama sampah visual, memperbaiki jalur sepeda yang sudah rusak serta membuat tanda tanda di jalur yang dipergunakan  sahabat difable, dimana kegiatan tersebut  juga diikuti oleh berbagai komunitas, antara lain penggiat bersih bersih sampah visual, pesepeda, seniman serta kaum difable.

Aksi kegiatan tersebut pernah saya tulis di Kompasiana dan menadi HL dengan judul Walikota Jogja tidak peduli

Selain hal diatas adalah aksi solidaritas antar sesama pesepeda yang sedang terkena musibah, dimana sudah dua orang pesepeda yang tertabrak oleh kendaraan bermotor didatangi oleh teman teman untuk menyampaikan simpati, belasungkawa dan mensupport keluarganya baik secara moril maaupun material, dimana untuk masalah membantu dalam bentuk materi teman teman yang sering terlibat dalam aktifitas bersepeda tiap Jumat malam bulan terakhir tersebut mengadakan patungan dimana cara pengumpulan dilakukan saat aktifitas JLFR.

Yang membuat saya sangat respect adalah pengumpulan uang seiklhasnya dari sahabat sahabat muda yang kebanyakan masih  belajar di bangku SMP/SMA/Mahasiswa dari lembar lembar seribu dua ribu lima ribu dan seterusnya tersebut bisa terkumpul dalam nilai yang lumayan banyak. Itulah bukti lain aktifitas JLFR adalah sebuah aktifitas yang sangan positif dan mendidik kesetiakawanan, karena walaupun dua orang yang sedang menyandang musibah tersebut tidak mereka kenal karena memang bukan pesepeda yang sering ikut JLFR, sahabat sahabat aktifis bersepeda yang sering ikut JLFR tetap komitmen untuk melakukan hal tersebut.

Mengenai kedua orang yang terkena musibah tersebut, yang pertama tertabrak kendaraan bermotor dan harus rawat inap/mondok di rumah sakit. Sedangkan yang satu lagi tertabrak dan meninggal dunia sehingga selain sahabat sahabat muda aktifis JLFR melakukan kunjungan dalam rangka bersimpati, juga mengadakan peringatan dengan tema “Sepeda Sunyi” dimana acara tersebut untuk memperingati kematian pesepeda yang tertabrak dijalan raya dengan harapan agar tidak terjadi lagi kematian di jalan raya.

Acara tersebut dilaksanakan dengan melakukan orasi di sebelah selatan tugu dihadapan media cetak dan elektronik untuk kemudian dilanjutkan dengan melakukan perjalanan menuntun sepeda dari tugu sampai jembatan kleringan dan kemudian memasang sebuah sepeda sebagai semacam tugu peringatan agar tidak terjadi lagi kematian dijalan raya.

Untuk video peringatan bertajuk “sepeda Sunyi” ini bisa dilihat di sebelah kanan judul tulisan ini atau bisa juga dilihat di you tube.

Kegiatan/aksi yang lain lagi adalah perbaikan sarana sepeda, yaitu perbaikan beberapa ruang tunggu sepeda di Jogja yang hampir hilang keberadaannya entah karena catnya sudah tergerus ataupun tertutup aspal baru …

Dan aksi (pengerjaan ruang-ruang tunggu sepeda) tersebut dilakukan karena walikota Jogja yang pada tanggl 6 oktober 2012 pernah berjanji akan segera memperbaikinya dengan ‘segera”, namun hingga beberaapa saat tidak segera ada realisasi sehingga para pesepeda Jogja tersebut merasakan bahwa respon walikota sangat lambat, maka mereka memutuskan harus segera mengerjakannya sendiri, mereka punya pikiran bahwa dengan atau tanpa peran pemerintah masyarakat tetap berdaya!

Baik itu secara material maupun moral!

Maka dimulailah aksi tersebut ...

Mereka menolak karena mereka masih mampu!

Dan disaat aksi tersebut tercium media masa dan masuk dalam berita secara berturut-turut di koran koran lokal Jogja dalam beberapa hari ini, ada respon dari ketua DPRD Jogja yang menyatakan mendukung aksi tersebut dengan jalan ingin menyumbangkan satu bulan gajinya sebesar 10 juta untuk aksi tgersebut.

Disinilah letak keberdayaaan, kemandirian dan karakter kuat para penggiat sepeda dan street art tersebut

Mereka menanggapi keinginan ketua DPRD tersebut dengan cara menolak bantuan tersebut.

Dan alasannya adalah agar tidak merusak konsep kemandirian masyarakat.

Menurut mereka kucuran dana jutaan rupiah dari legislatif tersebut justru tidak mendidik dan hanya akan mematikan gerakan masyarakat untuk mandiri. Juga terjadinya kekhawatiran bila sumbangan tersebut diterima, akan merubah sudut pandang publik, seakan-akan aksi tersebut diwarnai kepentingan politik.

Dan yang lebih dari itu adalah mereka menolak karena mereka merasa masih mampu!

.

Dalam benak sayapun terpikir, ketika sumbangan tersebut diterima maka harus diterimakan kepada siapa dan laporan ke publiknya bagaimana, sehingga meskipun nantinya umpama mereka telah menggunakan dananya dengan benar, saya yakin ada juga pikiran publik tentang kemungkinan para penerimanya “ikut menggunakan” dana tersebut untuk pribadi.

Terus terang saya juga berpikiran, andai orang lain sangat mungkin sekali tergiur dan tawaran bantuan tersebut langsung diterima!

Maka, untuk sebuah sikap yang sangat tepat dan tegas ini, patut rasanya kita mengapresiasinya!

Meskipun mereka melakukan aksi mereka dengan cara bersusah payah mengumpulkan rupiah demi rupiah, namun mereka tetap mempunyai sebuah prinsip; bahwa aksi teresbut adalah aksi pesepeda yang berdaya! Dan bukan hal lain seperti , aksi perlawanan apalagi aksi cari untung seperti yang pernah saya tulis  di Kompasiana dengan judul Negara membutuhkan anak muda seperti mereka  

Untuk itulah sangat wajar rasanya bila saya mengatakan bahwa anak-anak muda seperti inilah yang diperlukan Negara!

Mereka terus bergerak, tanpa harus menunggu komando!

Dan juga, tanpa harus menunggu bantuan finansial!

.

Beberapa hal lagi yang menguatkan argumentasi saya adalah, di tengah konsumerisme yang melanda sebagian besar masyarakat Indonesia, mereka tetap mempunyai gaya hidup yang tidak memperlihatkan kemewahan hidup “secara berlebihan”, secara “materi”;  mereka tetap mencintai gaya hidup sederhana, yaitu “rutin menggunakan sepeda” sebagai alat transportasi dan penjaga kebugaran tubuh meskipun dalam keseharian mereka juga ada yang memiliki motor/mobil yang mempunyai nominal rupiah yang tinggi. Bagi mereka motor / mobil adalah hanya sekedar sarana yang digunakan saat mereka membutuhkan saja, dan bukan sarana untuk “memamerkan” diri.

So ?

Terus beregarak friend!

Salut untuk para pesepeda yang mandiri dan berdaya!

Negara harusnya diisi orang-orang seperti Anda semua!

Bukan Negara yang korup dan buta dalam memenuhi ruang publik yang sehat untuk rakyat, bukan ruang publik yang semakin padat, macet dan semrawut!

Apabila  kita sedikit sensitif dan bersedia mencermati perkembangan di media sosial, sebenarnya sedang banyak terjadi masalah di kota  Jogja, dan itupun tidak luput dari perhatian dan respon dari mereka dalam bentuk diskusi, pemutaran film, dan kegiatan lain. Apabila Anda ingin melihat salah satu film diantaranya adalah dengan judul “Belakang Hotel” yang bisa Anda temukan di You Tube..

Cukup banyak kegiatan positif yang dilakukan ataupun paling tidak diikuti oleh sahabat sahabat yang sering mengikuti aktifitas JLFR bukan ?

Nah, dibulan Ramadhan ini juga, sebagaimana tahun tahun yang lalu, sahabat sahabat penggiat aktifitas JLFR juga baru saja mengadakan aksi simpatik berupa membagi takjil di sela sela melakukan aktifitas bersepeda pada hari Jumat. Pembagian takjil tahun ini dilaksanakan di depan Balaikota Jogja.

Bagi saya, semua itu adalah sebuah perjalanan panjang;  dari sekedar melihat, untuk kemudian mengalami dan merasakan ketika saya sudah ikut masuk ke dalam “alam” pikiran muda yang selalu bergerak dinamis, kreatif dan memberi atau paling tidak mencari banyak solusi, bukan sekedar teoari belaka, tapi dengan tindakan yang nyata!

Semua itu adalah serangkaian pengalaman dan pelajaran berharga untuk orang yang sudah cukup berusia seperti saya dari anak anak muda yang harus saya bagi kepada yang lain agar makin banyak yang terinspirasi dan mengalami pencerahan.

Mudah-mudahan dengan bersepeda bisa makin melatih kita agar lebih peka dan sensitif serta peduli pada lingkungan sekitar.

Salam Gowes!

Komentar Untuk Berita Ini (2)

  • dimas tarto Jumat, 03 Juli 2015

    sangat meng inspiratif dan mengena ...semoga semakin bisa jadi pendidik dan pemberi contoh bagi anak anak muda agar ter arah langkah dan tujuan untuk menjadi pemuda yg bermanfaat dan bisa membuktikan kemampuan dan kemandirian bahwa mereka BISA ,,BISA dan

  • Rd Sya rani Minggu, 28 Juni 2015

    JLFR emang ga ada matinye, keren mas !

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas