Artikel

Jalur Gowes dengan variasi kuliner yang Istimewa

Sabtu, 26 Desember 2015 | 00:00:00

Saat saya dan teman teman tengah menikmati makanan dan minuman organik, ada penjelasan dari Pak Iskandar pemilik tempat kuliner tersebut kepada para tamunya tentang permakutur, tentang filosofi kehidupan, filosofi pertanian, cara pandang Islam yang sangat menyeluruh tentang alam lingkungan dan seisinya hingga kemudian terjadi proses hadirnya life design yang dibangun di tempat ini ...
Pak Iskandar adalah warga keturunan asing yang begitu fasih berbahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa halus ...
Itulah salah satu tempat kuliner istimewa dengan pemilik yang istimewa dan dengan hasil makanan dan minuman organik yang istimewa pula yang ingin saya ulas di tulisan saya kali ini
O ya, bagi yang suka berpetualang dengan sepeda dengan jalur alternatif disamping jalur sepeda yang biasa dilalui, disamping timur tempat kuliner yang satu ini ada sebuah rute pilihan jalur sepeda yang sepertinya cukup menantang, hanya saja saya belum tahu nama rute tersebut karena disaat saya ingin menjumpai para pesepeda yang turun dari jalan setapak tersebut mereka begitu cepat dan tergesa seolah ada sesatu yang dikejar atau mungkin juga sedang ada acara lain selain menjajal rute tersebut
Agar Anda tidak penasaran, silahkan ikuti ulasan saya tentang gowes wisata sepeda sambil menikmati istimewanya cita rasa makanan dan minuman di beberapa tempat di jalur gowes ini ...

Seperti kita ketahui bersama bahwa jalur atau destinasi gowes ke utara sangat banyak, akan tetapi destinasi berkumpul untuk makan dan ngobrol bareng bersama dengan banyak pesepeda yang paling terkenal hanya satu yaitu Warung Ijo atau sering disingkat Warjo.
Dan, beberapa bulan belakangan ini ada destinasi baru untuk tempat makan dan berkumpul bagi pesepeda yang arah bersepedanya ke selatan yaitu bubur bu Yati di Bibis.
Nah, tak ada salahnya bukan bila saya membicarakan jalur lain lagi yang sebenarnya juga sering dijajal oleh banyak pesepeda namun belum setenar warung ijo dan bubur bu yati .
.
Anda mungkin sudah banyak yang mengetahui tujuan bersepeda arah selatan tetapi jalur yang timur, yaitu makam raja Raja Imogiri, dimana disana juga banyak para pesepeda datang untuk menikmati pemandangannya maupun juga menikmati enaknya makanan khas disana yaitu bubur Mbak Wied.
Ya meskipun cukup banyak pesepeda yang datang ke tempat tersebut terutama pada setiap hari Minggu akan tetapi tempat tersebut tidak begitu terkenal atau lebih tepatnya jarang dibicarakan para pesepeda di sosial media maupun di Grup grup WA seperti halnya mereka membicarakan Warjo dan Bibis, walau saya sendiri tidak tahu mengapa bisa begitu.
Lalu, destinasi kuliner yang akan saya ulas itu warung bubur Mbak Wied inikah ?
Ya, tapi tidak sepenuhnya, warung bubur Mbak Wied adalah hanya atau termasuk salah satu jalur gowes kuliner yang akan saya bicarakan.
Sebelum saya ulas lebih laanjut tentang jalur gowes kuliner ini silahkan Anda lihat dengan seksama gambar berikut ini :
.

.


.
Apabila Anda mengamatinya dengan seksama foto tersebut dan Anda memang sudah pernah datang ke tempat dimana foto tersebut diambil pasti Anda langsung bisa menebak dimana foto tersebut diambil.
Ya. Tempat itu adalah Kebun Buah Mangunan yang masih ada di wilayah Dlingo Bantul.
Sebuah tempat yang sangat indah ya.
Indah untuk dinkmati pemandangannya, indah juga untuk diabadikan gambarnya; apalagi bagi mereka yang sedang memadu asmara, cukup dan sangat romantis.
Yach, jalur gowes ke Kebun Buah Mangunan adalah sebuah perjalanan gowes yang cukup menantang karena tanjakan berkeloknya yang seakan tak berujung; akan tetapi dibalik tantangan tanjakan yang berkelok tersebut pemandangan yang kita dapatkan disana cukup setimpal.
Akan tetapi bagi yang tidak atau belum berani melakukan perjalanan bersepeda dengan tanjakan berkelok seperti itu sebenarnya ada pilihan lain, yaitu perjalanan gowesnya cukup sampai di bukit yang diatasnya ada gasebo dimana orang disekitarnya menyebut dengan bukit bintang, bukit arah perjalanan sebelum Kebun Buah Mangunan, dimana selain perjalanan bersepeda kita tidak terlalu berat akan tetapi cukup menghasilkan keringat, selain itu di area terebut cukup bagus untuk mendapatkan gambar gambar bagi yang hobi dengan fotografi.
.
.
Untuk sampai ke bukit tersebut Anda bisa mencapainya dengan jalur menuju arah kanan sebelum Anda menuju ke makam Imogiri.
Setelah beberapa tanjakan berkelok sekalian mengatur nafas dan menata kondisi, silahkan Anda berhenti di kelokan dimana disitu ada pagar pengamanan dikana dan kiri. Sebuah pemandangan yang perlu Anda nikmati dengan seksama; yaitu pemandangan tangga makam Raja Raja Imogiri dari sisi lain!
Dan, janagan lupa ambil gambarnya!
Sebuah gamabar yang bagus apabila diambil oleh ahli dibidangnya!
Dan untuk kita, bila tidak bisa mengambil gambar pemandangan tersebut dengan hasil yang baik, barangkali kita ambil saja dengan mata dan kita rekam ke dalam memori kita ha ha ha ...
.

.
Setelah sesaat Anda menikmati indahnya pemandangan secara seksama dan nafas Anda sudah mulai teratur kembali Anda bisa melanjutkannya dengan naik keatas. Dan hanya dengan dua kelokan tanjakan dengan jarak kira kira sekitar 500 meter Anda bisa berhenti kembali. Jangan lupa, karena Anda sedang berada di web dan dalam rengkuhan tulisan pikiran #woles saya, maka pemberhentian untuk kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk me charge tubuh dengan istilah lain adalah bike to warung alias menuju atau berhenti ke warung yang menurut saya cukup unik, dimana tempelan tempelan tulisan di warung tersebut sangat menggelitik, dianataranya adalah “Pemadam Kelaparan” yang tertulis besar besar saat akan masuk ke warung tersebut; kemudian ada juga tulisan menggelitik lainnya yang berbunyi “Tamu Harap Lapar”
He he ... unik bukan ?
Lalu apa saja menu di waung dengan caption unik unik tersebut ?
Soal makanan sepertinya hampir sama dengan kebanyakan warung lainnya yaitu Nasi Goreng dan beberapa macam masakan Mie, akan tetapi untuk minumannya bagi saya cukup bisa mengembalikan kesegaran tubuh, diantaranya yang paling saya sukai adalah teh panas dengan gula batu yang bila pengunjung sepi pemilik warung selalu menawarkan tambahan air panas plus gula batunya dengan cara yang ramah. Ada pula minuman yang cukup membuat hangat dibadan, yaitu wedang uwuh.
.

..


Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa untuk Anda yang belum mampu melakukan perjalanan bersepeda dengan banyak tanjakan berkelok sampai diatas Kebun Buah Mangunan maka Anda cukup sampai ke Bukit Bintang saja, dimana Bukit Bintang tersebut hanya sekitar 300 meter diatas warung pemadam kelaparan tersebut, untuk itu bila Anda sudah selesai menikmati makanan dan segarnya minuman di warung makan pemadam kelaparan Anda bisa langsung ke Bukit Bintang dan sampai disana hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Atau bila Anda cukup kuat bersepeda tujuan pertama adalah sampai ke bukit bintang terlebih dahulu, Anda bisa menikmati terlebih dahulu keindahan diatas bukit bintang yang diatasnya ada gazebonya baru kemudian melanjutkan men cahrge tubuh Anda. Nah, andai ini yang Anda lakukan Anda bisa mempunyai dua pilihan untuk men charge tubuh Anda, yang pertama yaitu di warung pemadam kelaparan dan yang kedua adalah di Bumi Langit yang jaraknya sekitar 1 KM diatas Bukit Bintang.
Bumi Langit adalah sebuah rumah makan dengan bahan organik dan menu serta memasaknyapun juga dengan bahan bahan yang didapat dari alam dan binatang, sebagai contoh cara memasaknya adalah dengan bahan dari kotoran binatang peliharaan yang sudah dibuat bio gas, begitu pula makanannya adalah hasil dari menanam dengan pupuk kotoran binatang yang semuanya masih alami sehingga seperti apa yang dikatakan pemiliknya bahwa rumah makan ataupun tempat ini secara keseluruhan adalah merupakan life design. Dimana seperti yang saya katakan diawal bahwa filosofi dibangunnya Bumi langit ini adalah filosofi pada kehidupan dan cara pandang Islam tentang penghargaan air, alam, binatang sebagai bagian dari sebuah kehidupan yang dikelola sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah life design. Untuk lebih jelasnya barangkali Anda harus datang sendiri dalam kelompok, belajar bersama tentang life design dengan segala penjelasannya yang bagi saya cukup mempunyai makna yang dalam untuk kita hayati bersama sebagai mahluk sosial maupun mahluk yang harus bisa menyatu alam, menghayati agar bisa selaras dengan alam dan tentunya akhirnya juga selaras dengan Sang pencipta.
O ya, adapun menunya ada berbagai macam tapi karena saya lebih tertarik pada aneka variasi makanan kecilnya maka pada saat itu yang saya pesan adalah nasi goreng yang tentunya dengan bahan beras organik. Sedangkan minuman yang saya pesan saat itu adalah minuman es serai daun mint yang rasanya sangat soft tapi di kedalamanannya ada cita rasa yang cukup terasa mengendap di indra rasa/ lidah.
Adapun variasi makanan kecil di Bumi Langit yang beralamatkan di Jl Imogiri mangunan KM 3, Giriloyo Wukirsari Imogiri Bantul yang dihasilkan dari kebun sendiri dan cukup enak rasanya itu diantaranya adalah ubi ungu, roti sorghum, tape ketan, nogosari, pisang godhok dan beberapa variasi makanan lainnya.

Oh ya, karena bahan bahan semua makanan dan minuman adalah dari bahan organik, maka tentu saja tarifnya agak sedikit berbeda. Tapi bagi saya itu adalah sebuah harga yang cukup pantas untuk sebuah makanan dan minuman yang selain ditanggung halal juga mempunyai cita rasa dan nilai yang berbeda pula.
.
.

Bumi langit, pak Iskandar yang sedang memaparkan tentang life design kepada para tamunya, dan sisi timur Bumi langit yang ternyata ada rute sepeda yang menarik

Makanan kecil yang ditata rapi, ruangan yang bersih, sangat menarik  dipandangan mata

.

Bapak Iskandar pemilik Bumi Langit, sedang menemui sahabat lamanya

Nah, setelah melihat paparan tersebut, saya berharap Anda bisa membayangkan dan mereka reka sebelum melakukan perjalanan bersepeda Anda, apakah akan bersepeda sampai ke atas Kebun Buah Mangunan dengan segenap keindahannya dan kemudian pada saat turun dalam perjalanan kembali Anda baru mampir ke salah satu warung tersebut atau mungkin Anda cukup bersepeda hanya sampai ke Bukit Bintang, silahkan Anda timbang timbang terlebih dahulu.
Bukan target jarak tertentu yang kita gapai, tapi gapailah yang menurut Anda sudah cukup untuk bisa menyehatkan tubuh dan jiwa, tubuh sehat kesenangan didapat.
Bagi saya sendiri, bersepeda bukanlah sebuah target prestasi atau sekedar gagah gagahan, akan tetapi bersepeda adalah wisata sehat dengan tetap memperhatikan segala keamanan, kenyamanan dan kesehatan tubuh kita, dengan cara sebentar sebentar berhenti layaknya wisatawan, untuk menikmati segala keindahan alam dan kebesaran Tuhan tersebut dengan seksama dan perlahan, untuk kemudian tak hentinya bersyukur atas segala anugerah yang diberikan olehNya.

Salam sepeda wisata

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas