Artikel

Klover Parcel, parcel kepedulian, jauh dari gratifikasi

Minggu, 12 Juli 2015 | 00:00:00

Ramadhan  hari ke 21 sudah terlewati dan lebaran tinggal menunggu beberapa hari lagi.

Lebaran adalah hari yang dinantikan masyarakat Indonesia, bukan hanya yang beragama Muslim saja karena lebaran sudah hampir identik dengan budaya, ya budaya silaturahmi saling mendatangi rumah kerumah untuk saling maaf memaafkan, terutama masyarakat di kampung kampung dan pedesaan.

Tapi dibalik semua itu di jaman modern ini lebaran tidak lagi sekedar merayakan kemenangan dengan saling bermaaf maafan untuk menghapuskan segala kesalahan yang telah dilakukan dalam setahun sebelumnya dan kembali menjadi putih bersih di hari raya Idul Fitri; namun lebaran pada akhir akhir ini sudah dimuati hal hal lain yang sebenarnya tidak masuk dalam ranah tradisi - religius tersebut, salah satu diantaranya adalah pemberian parcel.

Memang pada awalnya pemberian parcel adalah murni sebagai pemberian untuk penghormatan pada yang diberi. Akan tetapi kemudian makna parcel bergeser setelah dibalik pemberian tersebut ada maksud maksud tertentu diantaranya adalah untuk memuluskan proyek dan semacamnya. Oleh karena itu pemerintah melalui KPK sudah membuat undang undang bagi pegawai negara untuk dilarang menerima bingkisan parcel tersebut karena parcel sudah digolongkan sebagai bentuk gratifikasi.

Lalu, kalau parcel yang ini kenapa bisa dikatakan jauh dari gratifikasi dan bahkan dibilang sebagai parvcel kepedulian ?

Adalah sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas  Lowrider Verdedeburg (KLOVER), sebuah komunitas bersepeda yang merasa terusik kepekaan jiwanya ketika melihat masih banyak dijalan jalan para pengasong, pemulung dan pedagang keliling yang mempergunakan sepeda sebagai sarana mencari nafkah dimana mereka bekerja membanting tulang dari fajar tiba hingga petang baru pulang hanya sekedar ingin memenuhi kehidupan “dasar” mereka yaitu makan dan mungkin pendidikan dasar.

Oleh sebab itu komunitas Klover yang terusik rasa kesetiakawanan sosialnya  ini langsung membuat sebuah aksi simpati berbagi pada sesama dan “memurnikan kembali” makna parcel sebagai bentuk penghormatan, bukan penghromatan terhadap orang yang lebih tinggi pangkat dan derajat sosialnya akan tetapi penghormatan terhadap “Nilai nilai keperjuangan” yang tinggi pada para pengasong, pemulung dan semacamnya yang merupakan pahlawan pejuang bagi keluarga masing masing, dengan landasan bahwa cara mencari nafkah mereka adalah murni mencari rejeki yang “bersih” tidak mengambil barang orang lain, bahkan meminta minta sekalipun karena mereka masih menghargai “usaha”,  entah itu sekeras dan sesulit apapun daripada sekedar  ingin cepat dan mudah mendapatkan rejeki/uang dengan mengambil milik orang lain atau bahkan sekedar meminta/mengemis.

Perlu ditekankan bahwa disini mereka menggunakan istilah “berbagi” dan bukan memberi karena mereka merasa bahwa semua yang dimiliki itu bukanlah milik sendiri namun hanyalah titipan Tuhan yang dipercayakan pada mereka yang sedang memiliki barang/harta tersebut, sehingga betapa sombongnya bila barang/harta titipan dari Tuhan itu mereka katakan sebagai hak mereka yang akan diberikan pada orang lain. Mereka sadar bahwa aksi mereka bukan memberi tetapi berbagi, itulah nilai dari  kepekaan dan kerendahan hati mereka yang patut kita acungi jempol.  Untuk kemudian tanpa malu dan sungkan kita melakukan hal yang sama seperti mereka, meski dengan cara yang barangkali berbeda sesuai situasi dan kondisi kita semua ...

Adapun untuk aksi yang sudah dimulai selama empat tahun berturut turut ini diawali “Klover parcel 1” yang membagikan 50 bungkus yang berisi sembako dan pakaian siap pantas pakai, dan berturut turut Klover Parcel 2,3 dan empat yang semakin meningkat yaitu 60, 65 dan 70 bungkus/parcel, dengan isi  juga lebih banyak dari sebelum sebelumnya.  Adapun pakaian yang dibagi memakai istilah “pakaian siap pantas pakai” yang artinya adalah pakaian yang disiapkan untuk bisa langsung dipakai secara pantas karena pakaian yang juga merupakan sumbangan para donatur tersebut saat diterima dicuci dan di seterika terlebih dahulu agar saat dipakai atau pada saat dibuka kesannya akan lain karena melihat pakaian yang diterima begitu rapi dengan aroma yang sedap.

Mengenai parcel tersebut selain dikumpulkan  dari barang/ uang (yang dibelikan barang) mereka sendiri karena makin banyak yang terketuk hatinya, banyak juga dari para donatur.

Dan pada “Klover Parcel #4”, setelah 3 kali sebelumnya rutenya  ke arah barat, selatan dan kemudian ke timur, maka pembagian parcel kali ini rutenya ke utara atau kearah jalan godean, dengan keberangkatannya dari Titik 0 KM dengan membagi bagi terlebih dahulu beberapa parcel kepada para pedagang berkeliling, pengasong dan pemulung yang menggunakan sepeda serta beberapa pengemudi “BECAK KAYUH”.

Pada saat pembagian sempat beberapa kali ada pengemis yang datang meminta, akan tetapi tidak diberikan karena melihat penampilan mereka yang berpakaian bagus dan tubuh yang masih gagah sehingga seharusnya mereka tidak mengemis melainkan berusaha bekerja entah dengan cara apapun; itulah spirit dari aksi berbagi “Klover Parcel” ini, yang tetap meenghargai mereka yang bersedia “berjuang” dan berusaha, tidak sekedar meminta.

Dari pengamatan saya selama pembagian tersebut, kebanyakan yang di cegat di tengah perjalanan mereka pulang bekerja, ada yang terkejut, gembira bahkan ada pedagang es keliling yang sepertinya sedang memulai menawarkan dagangan untuk berbuka, saking gembiranya mengatakan “salam gowes” dengan nada penuh semangat.

Barangkali, Parcel yang dibagikan yang berupa sembako dan pakaian pantas siap pakai bagi orang yang mampu tidaklah seberapa, akan tetapi bagi mereka yang setiap harinya mencari dan mengumpulkan uang rupiah demi rupiah dalam jumlah yang sangat terbatas bisa menjadi sebuah “parcel” atau hadiah di tengah kesulitan meraka mencari nafkah, sehingga bisa sedikit mengurangi beban mereka yang juga bisa melegakan mereka, apalagi saat menerima parcel tersebut mereka melihat yang memberi atau lebih tepatnya membagikan juga mengendarai sepeda;  mereka jadi tidak merasa sungkan untuk menerimanya dan menjad lebih tersuport karena cara membaginya yang cukup smooth; yaitu dengan bersepeda dan berdiri sejajar di jalanan, tanpa penyekat apapun ...

Selamat menyongsong hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

.

" Bukan hanya bersepeda tak tentu arah
Bukan hanya bersepeda tak kenal waktu
Kami juga peduli kepada mereka yang membutuhkan, yang mengayuh sepeda demi mencari sesuap nasi untuk keluarga"

( Cokro Agus Sudiro Agus Sudiro , 2015 )

 

Komentar Untuk Berita Ini (1)

  • yudha Selasa, 23 Mei 2017

    Indahnya berbagi...saling mengasihi..respect to teman2 klover

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas