Artikel

Mbah Kung Endy : Petouring petarung yang rendah hati

Rabu, 05 Agustus 2015 | 00:00:00


Kebanyakan orang akan menghadapi sebuah situasi yang serba menurun saat usia telah menapaki usia senja dan usia purnatugas atau pensiun, menurun baik dalam aktifitas fisik maupun aktifitas lain sehingga kadang menjadi sebuah hal yang wajar bila dalam keseharian semua kehidupannya menjadi sebuah rutinitas yang hanya membosankan saja, tanpa ada sebuah letupan energi yang bisa menggerakkan semangatnya. Sebuah kehidupan “post activity syndrom” yang memang sebenarnya selalu banyak dikhawatirkan bahkan oleh orang yang baru mau memasuki masa tersebut sehingga kekhawatiran kekhawatiran tersebut justru semakin membuat sebuah akumulasi pemikiran yang menutup sebuah peluang bahwa usia purnatugas atau pensiun adalah sebuah usia atau masa yang menyenangkan karena telah mempunyai sebuah kebebasan untuk berkegiatan atau aktifitas pilihan apapun tanpa harus dibatasi tugas tugas lain saat masih bekerja. Tapi yang mempunyai pemikiran seperti itu tidaklah banyak dan itu adalah sebuah contoh yang saya coba ulas melalui tulisan saya berikut, dimana sosok yang saya ulas berikut ini sangat mempunyai aktifitas yang sangat dinamis, aktifitas melawan kemundururan fisik dan psikis.
Beliau atau sosok tersebut adalah seorang petouring; petouring yang juga petarung, namun petarung yang rendah hati.
Siapakah beliau dan apa aktifitas menarik beliau berikut juga filosofi apa yang dapat kita ambil manfaatnya dibalik aktifitas beliau tersebut, silahkan ikuti wawancara yang langsung saya rangkum dalam bentuk sebuah tulisan berikut ini :


Terlahir di Tulungagung pada tanggal 28 Agustus 1952 atau saat ini sudah berusia 63 tahun dengan nama lengkap Mochammad Masykur Effendy, seorang pensiunan PT. POS INDONESIA (PERSERO) di tahun 2010 adalah seorang yang mempunyai aktifitas olahraga layaknya bukan seorang yang seusia lebih dari setengah abad.
Sosok yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Kung Endy baik di media sosial maupun kegiatan kemasyarakatan kesehariaannya memulai hobi atau kesukaan olahraga bersepeda sebenarnya belum lama yaitu sekitar tahun 2011 atau sekitar 1 tahun paska purnatugas.
Karena saat bekerja alat transportasi keseharian mbah Kung Endy adalah dengan mobil pribadi atau kadang sepeda motor dan barulah setelah pensiun lebih sering menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi, karena disamping untuk menghemat keuangan juga untuk kegiatan/aktifitas olahraga.
Aktifitas bersepeda mbah Kung Endy dengan sepeda selain untuk digunakan sebagai sarana transportasi keseharian juga digunakan untuk kegiatan berbagai macam olahraga sepeda diantaranya yang pernah dilakukan adalah : Road Bike, Mountain Bike/Uphill, dimana uphill ini sampai saat ini masih sering dilakukan dengan tujuan untuk menyemangati kamunitas yang pernah didirikan oleh mbah Kung Endy pada tanggal 22 Oktober 2012 dengan nama BCC ( Basec Cycling Club) yang hingga saat ini anggotanya ada 116 orang. Selain itu juga Bike Adventure (Touring), dwnhill (hanya sekali coba dan jatuh terus kapok, sehingga karena banyaknya kegiatan tersebut di rumah mbah Kung Endy mempunyai tidak kurang dari 5 jenis sepeda termasuk seli (sepeda lipat). Dan diantara semua kegiatan tersebut yang paling disukai mbah Kung Endy adalah Touring (Bike Adventure )
Mbah Kung Endy sering bersepeda sendirian menjelajahi perbukitan/pegunungan, susur pantai disekitar Jogjakarta dengan jarak tempuh rata rata sekitar 100 KM dalam perjalanan sehari. Dalam kesendirian dengan jarak yang cukup jauh tentu memakan waktu yang cukup lama, tapi justru lebih nyaman bila dibanding bersama teman/rombongan karena bisa melakukan apa saja sesuai rencana maupun keinginan spontan dijalan dengan leluasa tanpa terikat dengan yang lain; dan meskipun sendiri itu tidak membuat kesepian karena di sepanjang perjalanan sering bertemu dan bertegur sapa sehingga interaksi tersebut sudah cukup dianggap sebagai teman berbincang, lebih dari itu dalam kesendirian justru bisa hikmat dlam berdialog dengan Yang Maha Pencipta, bisa juga melalui penikmatan alam ciptaanNya
Sebagai seorang yang suka touring adalah wajar bila dalam perjalanan pernah atau bahkan sering menemukan kendala atau tantangan namun menurut mbah Kung Endy beliau belum pernah menemui kendala yang berati baik sepeda maupun kesehatan, selain kedinginan sehingga takut mandi air dingin, namun tantangan yang paling berat bagi mbah Kung Endy adalah melawan kebosanan, masalah cuaca maupun kontur jalan (tanjakan/turunan dll) masih sangat mudah diatasi.
Disamping tantangan, kejutanpun sering ditemui yang nampaknya sangat sederhana tapi penuh kekuatan penyemangat misalnya, Like (gambar Jempol) di medsos maupun komen sekedar satu kata pada saat upload info perjalanan; juga, kadang ada anak anak muda yang menghadang menyapa dan minta foto bersama, kadang ada yang meberi tisu basah, ada juga yang meminta mampir sekedar minum teh; dan pernah juga beberapa kali makan di warung dan tidak mau dibayar dengan alasan sebagai ungkapan rasa simpati dan bangga melihat mbah Kung Endy bersepeda dengan penuh semangat, bahkan pernah ada yang menyewakan wisma untuk menginap, ada juga yang datang semata mata mendoakan agar diberi keselamatan selama perjalanan; dan masih banyak lagi ...
Ah, sebuah pengalaman yang cukup mengesankan ya ...
Mengenai manfaat yang didapat selama melakukan touring banyak sekali diantaranya mbah Kung Endy menjabarkannya secara rinci sebagai berikut :
Fisik : karena semua anggota tubuh bergerak dengan teratur maka metabolisme dalam tubuh menjadi lebih sempurna sehingga hasilnya menjadi sehat.
Psikis : dengan bersepeda mata sering melihat obyek yang berganti, apa saja yang diewati tentu akan menimbulkan kesan dan pesan tertentu yang dapat mempengaruhi jiwa kita sehingga semakin segar serta membuat semangat yang dinamis.
Sosial : bisa secara langsung berinteraksi dengan lingkungan yang dilewati, saling mengenal masyarakat baru sekaligus adat istiadat, budaya maupun mata pencahariannya, menikmati langsung kekayaan flora dan fauna, hijaunya dedaunan, pohon pohon besar maupun bunga liar yang indah di tebing pegunungan yang sangat mempesona, kicauan burung, kokok ayam hutan maupun suara suara khas binatang liar yang hidup bebas, gemericiknya air terjun diantara celah gunung batu, bagaikan alunan musik yang begitu syahdu ...
Pendidikan : dengan bersepeda bisa membuktikan langsung pelajaran sejarah yang di kenyam saat di bangku sekolah seperti bangunan Candi, tempat pertempuran pertempuran pahlawan kemerdekaan, kerajaan dan lain lain. Sehingga kita betul betul tahu dengan pemahaman penuh betapa hebatnya para leluhur yang mempunyai patriotisme luar biasa, jiwa seni yang tinggi, solidaritas yang kuat serta religiusitas yang mendalam, suatu perpaduan sikap hidup yang paripurna, sebuah pelajaran sejarah hisup yang harus diteladani.
Religius : dengan bersepeda bisa menjalin silaturahmi antar pesepeda, semakin memahami sebagai mahluk yang lemah selalu membutuhkan yang lain, sehingga meningkatkan rasa syukur kepada yang telah memberi kekuatan, kesempatan dan kesehatan; karena dalam usia yang tidak muda lagi masih diperkenankan Tuhan mengayuh sepeda pada jalur yang demikian.
Dalam setiap kayuhan, selalu ada dzikir, karena langkah dan kayuhan ini tidak terlepas dari pertolonganNya. Itulah rasa syukur mbah Kung Endy yang juga diwujudkan dalam bentuk amal, menjaga dan melestarikan serta mencintai semua ciptaanNya, sekaligus sebagai sebuah wujud rasa cinta yang sederhana, wujud atau cara mencintai tanah air secara sederhana.

 

Perjalanan mbah Kung Endy yang bagi saya sangat sulit saya lakukan adalah dua Touring dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan berat; yaitu touring Jogja ke Gunung Bromo dan touring Jejak Dakwah walisongo, dimana kedua perjalanan atau touring tersebut mempunyai latar belakang yang berbeda.
Motivasi mbah Kung Endy melakukan Tour de Bromo semata mata untuk menguji kemampuan dan ketahanan diri, menunjukkan eksistensi komunitas yang mbah Kung Enndy dirikan yaitu BCC (Basen Cycling Comunity), tujuannya agar mendapat pengakuan dan di kenal oleh publik secara luas melalui sosial media maupun media lain. Sedangkan Jelajah Jejak Dakwah Walisongo bertujuan untuk mengetahui lebih dekat lokasi dan pengaruh dakwah para wali terhadap tata kehidupan masyarakat di daerah/wilayah dakwah, menumbuhkan ghiroh (semangat diri) dalam peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah serta amal di dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat.
Harapan dari kedua touring tersebut adalah bisa berjalan sesuai rencana, akan tetapi karena sesuatu hal akhirnya hanya tercapai 80 – 85 persen, namun semua itu sudah dianggap sukses oleh mbah Kung Endy dan tetap disyukuri, sambil tetap mengambil hikmah untuk dijadikan bekal pada perjalanan selanjutnya.
Kedua pengalaman diatas mbah Kung Endy berkenan akan menceritakab pada saya secara mendetail di lain kesempatan.

Pengalaman perjalanan yang paling mengesankan bagi mbah Kung Endy adalah saat melakukan touring pertama ke bandung pada bulan Maret 2014, ketika itu tiba di Bandung disambut oleh beberapa pejabat PT POS INDONESIA di kantor pos pusat termasuk bapak Direktur Utama, dicarikan tempat mengibnap yang cukup mewah dan dijamu dengan sangat baik; begitu pula saat pamit diberi berbagai macam macam kenangan, termasuk uang yang cukup untuk bekal pulang ke Jogja, walaupun sebenarnya sedari berangkat sudah mempersiapkan bekal uang sendiri.
Sangat saya maklumi ketika mbah Kung Endy yang adalah seorang pensiuan Kantor Pos Cabang ketika datang disambut langsung Direktur Utama dengan segenap fasilitas yang lebih dari cukup, tentulah sebuah kebanggan yang sekaligus keharuan karena meski sudah purna tugas masih begitu dihargai, membuat mbah Kung Endy merasa seperti pahlawan. Apalagi selain Direktur Utama Pos Indonesia juga turut menyambut pula pejabat perbankan yang belum pernah dikenal mbah Kung Endy sebelumnya, mengajak makan malam di sebuah restoran khas Bandung yang cukup terkenal. Sebuah kenangan yang tidak mungkin terlupakan, apalagi jalinan silaturahmi tersebut masih tetap terjaga dengan baik.
Adapun dalam setiap perjalanan bersepeda, mbah Kung selalu mengabadikannya dalam bentuk Foto sebagai dokumen pribadi sekaliguas untuk bercerita kepada keluarga dana juga untuk memberi motivasi baik bagi kalangan muda maupun tua, bahwa umur bukan suatu hambatan untuk sehat, mandiri, sabar dan bermental pejuang atau pantang menyerah.
Untuk aktifitas mbah Kung Endy ini semua keluarga sangat mendukung selama aktifitas atau kegiatan tersebut positif, sehingga kapanpun dan sampai berapa lama keluarga tidak mempermasalahkan yang penting bisa menjaga diri lahir batin.
Bentuk dukungan dari keluarga adalah istri mbah Kung Endy selalu mempersiapkan barang barang, pakian dan obat obatan, termasuk masalah keuangan, baik itu untuk mbah Kung Endy sendiri maupun apabila ada teman yang ingin ikut melakukan perjalanan bersama mbah Kung Endy, bila memang memerlukannya. Dan yang terpenting bagi mbah Kung Endy adalah doa semua keluarga malam sebelum keberangkatan agar selama perjalanan hingga pulang diberi kelancaran dan keselamatan, termasuk yang ditinggalkan.
Mengenai kekhawatiran tentu saja ada, terutama dengan melihat kondisi mbah Kung Endy yang sudah tua apalagi pengalaman bersepeda yang masih terhitung belum lama (yunior). Namun karena dengan totalitas keyakinan menyerhkan semua itu pada Tuhan sajalah maka kekhawatiran bisa ditekan seminim mungkin.
Dan pada saat berangkat, istri dan anak mbah Kung Endy selalu mengantar meski hanya di depan rumah, inilah sebagian dari bentuk nyata dukungan dari keluarga mbah Kung Endy.
Sedikit berbicara yang ringan ringan tentang perkembangan persepedaan khususnya di Jogja, mbah Kung Endy merasa senang dan bangga karena makin banyak yang suka bersepeda, karena makin banyak yang senang bersepeda berarti makin banyak yang ingin sehat, selain itu juga akan makin banyak postingan postingan di medsos yang dampak positipnya adalah makin banyak obyek wisata yang dikenal masyarakat luas sehingga akan membuat animo masyarakat meningkat untuk melakukan pergi ke tempat yang selama ini belum diketahui sehingga hal tersebut akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah minimal ekonomi masyarakat sekitar obyek wisata tersebut, selain itu jalinan persaudaraan akan semakin baik diantara pesepeda pada umumnya, khususnya antar komunitas.
Mengenai persaingan di jalan raya menurut mbah Kung Endy sebenarnya tidak menjadi masalah apabila selama moralitas berkendara terbina dengan baik, pengguna jalan saling menghargai dan menghormati.
Mengenai seringnya diadakan funbike menurut mbah Kung Endy itu baik saja semasih untuk mendorong masyarakat semakin mencintai sepeda sebagai sarana olahraga yang juga akan menjadi rangsangan untuk menarik para wisatawan dan bukan semata mendorong masyarakat untuk berspekulasi sekedar ingin mendapatkan hadiah, sekaligus ajang bisnis semata.
Sebelum saya mengakhiri perbincangan dengan mbah Kung Endy saya sempatkan untuk memberi semacam resep atau tips dan trik agar bisa melakukan aktifitas bersepeda secara nyaman, baik saat turunan maupun tanjakan, karena masih banyak orang termasuk saya sering mengalami rasa deg degan saat medan turunan dan ngos ngosan saat medan berupa tanjakan.
Inilah resep atau tips dan trik yang diberikan mbah Kung Endy :
Resep untuk beraktifitas sepeda agar terasa nyaman dan aman :
a. Tentukanlah sepeda dengan bertanya pada diri sendiri, mencari sepeda untuk apa ? Tranportasi atau olah raga, kalau olahraga jenis apa ?
b. Ukuran (geometri) sepeda harus sesuai dengan tinggi badan kita agar nyaman dipakai dan tidak membuat cedera anggota tubuh kita.
c. Kondisi sepeda harus sering dikontrol, supaya tidak sering menemui kendala (kerusakan) pada saat digunakan sehingga selama dalam perjalanan bersepeda akan aman.
Tips dan Trik didalam perjalanan bersepeda agar kuat, tidak deg degan saat menurun juga tidak ngos ngosan saat melalui tanjakan :
a. Memahami kondisi fisik sebaik baiknya
b. Cek kesehatan ke dokter secara periodik
c. Latihan secara teratur baik di jalan tanjakan maupun turunan
d. Mencari ritme kayuhan yang sesuai dengan diri (detak jantung, nafas maupun otot kaki) dengan cara mencoba mencari kombinasi gigi (gir depan/belakang) yang paling nyaman
e. Makan yang cukup baik takaran maupun nilai kalorinya, atau paling tidak perut jangan sampai kosong sebelum atau saat bersepeda.
f. Yakin sepeda kita sehat, terutama anggota roda :rem” dan sebagainya
g. Menjaga emosi
h. tidak berhenti atau menuntun, kita berjalan wajar saja, karena kita tidak sedang lomba, karena yang dikatakan kuat bukan berarti mulai start sampai finish genjot terus tanpa berhenti, tapi sejak start sampai finish kita dalam kondisi tetap sehat dan selamatm kalaupun loyo karena lelah itu sudah manusiawi.
.
Dan bersepeda paling nyaman dalam perjalanan itu jika teman kita sepedan, karena apapun yang kita lakukan itu sebanding semua, sehingga terasa kompak. Namun tidak demikian halnya dengan bersepeda, karena tidak selamanya kita bisa bersama sama dengan pilihan kitam yang penting menurut mbah Kung Endy ada kesadaran masing masing dan komitmen, yanag speed nya tinggi bolah duluan sedang yang tidak tetap mengikuti sesuai speed yang dimiliki, berjalan secara konstan, baru pada titik titik tertentu yang sudah ditentukan berhenti, yang cepat menunggu yang lambat dan bersama sama lagi. Dan didinilah dengan anggota kelompok yang fariatif menjadi tempat pembelajaran pengendalian emosi, kesabaran, ketabahan, daya tahan dan memahami karakter masing masing.


Apabila diawal saat mbah Kung Endy mengatakan bahwa selama melakukan touring tidak pernah menemui kendala yang berarti, saya menangkapnya sebagai bahasa seorang yang sudah sangat matang, karena sebenarnya mbah Kung Endy pernah menemui sebuah pengalaman dimana di tengah perjalanan dicegat oleh orang yang ingin meminta paksa barang dan uang, akan tetapi oleh mbah Kung Endy dijawab dengan tegas dan berani meski dalam bahasa yang santun sehingga orang orang yang ingin merampok tersebut jadi mundur teratur saat mengetahui ketegasan mbah Kung Endy.

Dan inilah pelajaran terbesar yang saya dapat dari mbah Kung Endy yang mempunyai motto :

WAL’AQLUS SALIIMI FILL JISMIS, WAL MU’MINUL QAWIYYU AQDARU ‘ALAAA ADAAIT TAKAALIIFISY SYAR’IYYATI, WANNUHUUDHI BITABI’AATIL HAYAATI

“ Akal yang sehat itu terdapat dalam badan yang sehat, orang yang sehat akan lebih mampu melaksanakan segala ajaran agama dan menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lapang dada dan penuh ketebahan” ,

bahwa seorang petouring harus siap jadi petarung, namun petarung yang bukan untuk mencari lawan melainkan petarung yang berani melawan kejahatan, terutama kejahatan yang dilakukan dihadapan beliau saat dalam perjalanan bersepeda maupun perjalanan hidup kesehariannya.
.
Perlu saya sampaikan pula bahwa hasil wawancara secara komplit dari mbah Kung Endy ini justru karena mbah Kung Endy berkenan datang kerumah sebelum saya sempat datang ke rumahnya terlebih dahulu.
Hmmm, mbah Kung Endy
Beliau memang betul betul seorang petouring, petouring yang juga petarung, atau lebih lengkapnya adalah petouring petarung yang rendah hati.
Banyak hal yang masih harus kita gali lebih dalam lagi untuk bisa menjadi seperti beliau, namun setidaknya, kita semua sudah mendapat banyak pencerahan dan tuntunan dari beliau, seseorang yang sudah berumur, seseorang yang sudah purnatugas atau pensiun, yang kadang kita secara sadar atau tidak sering tidak menghargainya justru mempunyai, kesabaran, semangat, ketahanan mental juang yang tinggi, dimana kadang untuk kita yang masih muda muda sudah loyo untuk menghadapi semua tantangan, baik tantangan saat mengatasi tanjakan, maupun tantangan saat menghadapi masalah di kehidupan sehari hri kita ... malu rasanya
Dan rasa malu ini sepertinya baru bisa ditebus dengan cara terus berbenah dan berkaca pada beliau ...

Terima kasih banyak mbah Kung Endy
Salam hormat saya, semoga senantiasa diberkati kesehatan dan umur panjang ...

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas