Artikel

NgabubuRide ke Jiwangga, resto bernuansa Majapahit

Minggu, 04 Juni 2017 | 00:00:00

.

Setelah di awal Ramadhan saya besama teman teman bersepeda sambil menantikan datangnya saat berbuka puasa atau sering diistilahkan oleh para pesepeda dengan kata “NgabubuRide” yaitu dari bentukan dua kata Ngabuburit dan Ride yang artinya menunggu saat berbuka puasa dengan cara bersepeda di Jogokaryan yang terkenal dengan Kampung Ramadhan maka kali ini saya dan teman teman Ngabuburide ke sebuah Resto yang nuansanya begitu eksotik.

Perjalanan saya awali dari  Berbah dengan melalui jalan seputaran Bandara Adisucipto yang akhirnya sampai pada tembusan Gapura Patung Garuda yang berada di jalan raya Jogja Solo.

Sesampainya di depan gerbang garuda kami menyeberang kearah utara jalan dan dikarenakan jalan menuju kearah Resto yang saya maksud agak kebarat kami menuju kebarat dengan cara meununtun sepeda kami secara perlahan menepi dan hati hati. Arah resto itu sendiri adalah jalan pertama kekanan atau ke utara yang sejalan menuju ke Candi Sambisari.

Singkat cerita setelah saya dan istri saya menyambangi teman saya yang rumahnya ada disekitar gang masuk tersebut saya melanjutkan perjalanan bersepeda menuju ke Resto dengan melewati Candi Sambisari untuk kemudian kearah utara hingga menemukan pasar Kadisono di seputaran perumahan Pertamina.

Adapun letak resto tersebut sekitar 1 KM dari pasar Purwomartani Baru untuk kemudian setelah sekitar 1 KM ada belokan kebarat silahkan Anda belok kearah barat atau alangkah baiknya pada saat ada belokan tersebut Anda sempatkan untuk bertanya dimana arah Resto yang dimaksud, yaitu Resto Jiwangga.

Saat saya menanyakan pada penduduk setempat yaitu pada penjual gorengan yang rumahnya ada dipinggir jalan belokan tersebut, dari hasil keterangan penjual gorengan tersebut kami tidak begitu kesulitan menemukannya. Salah satu tanda yang paling mudah adalah saat Anda sudah melihat dari kejauhan sebuah jembatan yang terlihat menurun, di sebelum turunan jembatan tersebut ada tanda cukup jelas yang bertuliskan nama Resto tersebut; disamping itu ada juga tertulis nama jalannya yaitu Jalan Terbaik. Lucunya meskipun resto tersebut bukan berada di paling depan jalan tersebut alamatnya dibubuhi dengan angka/nomor 1 yaitu jalan Terbaik No 1; mungkin saja karena yang mengawali atau yang mempunyai ide menamai jalan tersebut ha ha

Sebelum saya memaparkan suasana Resto Jiwangga yang cukup eksotik tersebut ada baiknya sedikit saya memberi informasi bahwa untuk menuju kearah Resto apabila Anda menggunaan sepeda ataupun kendaraan Roda dua saya sarankan melewati rute yang saya lewati dikarenakan rute tersebut cukup sepi dan nyaman bagi kita yang suka menjauhi keramaian dan kebisingan dijalan raya; akan tetapi apabila Anda akan bersama keluarga dan memakai kendaraan besar ataupun roda empat saya sarankan untuk melewati dari arah tajem karena jalur yang saya lewati tersebut hanya cukup untuk dilewati kendaraan roda dua.

 

Resto Jiwangga yang baru buka sekitar 3 bulan yang lalu dengan nuansa Majapahit tersebut bagi saya cukup eksotik; betapa tidak begitu memasuki ruangan bahkan di jalan masuk yang jaraknya sekitar 500 meter ke resto tersebut kita sudah disuguhi berbagai patung patung dan bangunan dengan ornamen yang bernuansa peninggalan dahulu kala.

Saat saya datang di halaman yang cukup luas untuk parkir tersebut langsung disambut oleh para karyawannya dengan ramah termasuk saat saya menanyakan apakah boleh berputar putar untuk menikmati dan mengabadikan suasana ke eksotikan tempat tersebut, langsung diperbolehkan dan dipersilahkan akan tetapi ditawari sebaiknya memesan makanannya terlebih dahulu agar tidak kehabisan.

Demikianlah setelah memesan dan mengatakan akan ke tempat duduk yang kami pesan setelah ada tanda berbuka puasa maka saya dan teman teman segera menyempatkan berkeliling di tempat tersebut yang ternyata cukup luas juga, belum termasuk yang sedang dibangun di sisi paling utara.

Selepas kami puas berputar menikmati dan mendokumentasikan ke eksotikan tempat tersebut, maka kamipun segera menuju tempat duduk yang kami pesan dan menikmati makanan dan minuman yang telah kami pesan sebelumnya.

Sungguh, sebuah suasana senja yang syahdu yang kami dapatkan, apalagi saat kami melihat kearah utara ada terlihat merapi di keremangan senja dipadu dengan sinar lampu yang agak redup.

Yang membuat saya terkesan, meskipun pengunjungnya cukup banyak akan tetapi karena luasnya area tersebut, tidak terdengar suara saling bersahutan yang saling mengganggu diantara para pengunjung sehingga  suasana hening tetap bisa terjaga.

Terakhir, mengenai menu dan tarif makanan dan minuman bagi saya yang sekedar ingin mencari selingan hiburan kesegaran dan keindahan pemandangan, cukup puas dan suatu saat ingin mengulangnya, dengan cara bersepeda!

Cusss!

Gambar gambar yang lain silahkan di Klik disini

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas