Artikel

Pelajaran menuju kesempurnaan dengan bersepeda

Selasa, 07 Juli 2015 | 00:00:00

(Belik Kayangan)

Setiap perjalanan bersepeda selalu mempunyai kesan dan pengalaman tersendiri, kesan dan pengalaman yang melengkapi perjalanan bersepeda sebelumnya. Kesan dan pengalaman yang selalu memberi pelajaran yang menyempurnakan pelajaran sebelumnya.

Dan kali ini pelajaran yang saya petik adalah pelajaran dari sebuah perjalanan bersepeda dimana dalam perjalanan ini saya dipandu dan dibantu oleh senior saya mas Anto atau kalau di media sosial lebih populer dengan sebutan Zhema DC.

#Mas Anto alias mas Zhema DC, mentor saya dalam hal bersepeda

Perjalanan bersepeda saya kali ini juga bersama senior senior saya yang lain diantaranya adalah :

Om/mas :

Ferdian, Friso, Dony, Adi, , Pak Noeng, Greg, Ari, Hendra, Fariz

Medan di rute perjalanannya kali ini sebenarnya tergolong tidak begitu berat meskipun juga tidak bisa dikatakan “enteng” karena jalan yang dilewati adalah aspal yang mulus dan jalanannyapun tidak begitu ramai atau padat kendaraan meski termasuk jalan besar. Hanya saja rute ini sedikit memerlukan persiapan fisik dan mental karena ada jalan tanjakan dan turunan yang bagi saya adalah sebuah tantangan yang kadang harus saya lalui dengan rasa berdebar meski sudah sering merasakan.

Saya mengawali perjalanan ini dengan start atau titik kumpul di tugu untuk saling menunggu teman yang belum datang, untuk titik kumpul kedua adalah bantulan.

Setelah dititik kumpul dua semua lengkap perjalanan bersepeda segera diawali menuju kearah barat, adapun arah yang dituju adalah Belik bei Kayangan, dimana untuk mencapainya tidak terlalu sulit. Bagi yang belum pernah silahkan ikuti jalan kearah barat dari tugu, apabila sudah menemukan perempatan kenteng silahkan dilanjut beberaapa kilometer lagi dengan beberapa jalan turunan dan tanjakan yang tidak begitu tinggi. Apabila sudah mendapatkan tanjakan yang lumayan tinggi untuk kemudian Anda menemukan pertigaan di puncak tanjakan; maka sebelum turunan yang agak curam; silahkan berhenti dan berbelok ke kanan.

Nah, perjalanan saya di tanjakan terakhir inilah yang cukup menguras tenaga, betapa tidak; saya bersepeda bersama para pesepeda yang kecepatannya bagi saya cukup membuat “tertatih tatih” untuk mengikutinya; itupun saat masih ditanjakan yang agak landai; hingga saat ditanjakan yang lumayan berat ini saya betul betul kehabisan tenaga dan nafas!

Namun, justru disinilah saya kemudian mendapatkan pengalaman yang langsung mengubah gaya saya bersepeda.

Saat saya kelelahan rupanya mas Anto melihat posisi gear depan saya berapa di paling tengah, maka mas Anto langsung mengatakan bahwa sebaiknya kalau naik jangan memakai “power”, tapi turunkan gear depan ke yang paling kecil dan kemudian kayuh sesantai mungkin sambil membayangkan seperti saat mengayuh di jalan yang datar ...

Ha ha ha

Saya jadi mentertawakan diri sendiri; betapa usia yang sudah tidak muda lagi kok masih memakai “power”, asemik!

Yach, sebenarnya saya sering mendengar dan membaca tentang cara mengambil posisi gear saat jalan datar, menurun dan juga menanjak; akan tetapi  satu kata kata mas Anto yang lain lah yang membuat saya lebih memahami cara tepat mengayuh sepeda saat dijalan tanjakan; yaitu kayuh sesantai mungkin sambil membayangkan seperti saat mengayuh dijalan datar. Barangkali terdengar sedikit lucu atau aneh tentang membayangkan dijalan datar, akan tetapi  saya bisa menangkap poinnya yaitu  bahwa saat di dijalan datar  dengan mengayuh sesantai mungkin itu berarti adalah meregangkan otot dan mengurangi power ... kita ikuti  saja pergerakan pedal, atur ritme kaki dan nafas kita, menyesuaikan irama gerakan sepeda diatas jalan, senyaman mungkin ...

 #sebelum tanjakan terakhir ada pemandangan indah yang bisa dinikmati dan di dokumentasikan

Untuk itulah pada saat perjalanan saya ke Belik Bei kayanagan yang kedua bersama sahabat saya dari Bandung, saya sudah bisa melakukan gerakan seperti apa yang diajarkan mas Anto, yaitu sejak dari ujung sebelum menanjak mempersiapkan gear depan ke gigi yang paling kecil dan gear belakang ke gigi yang paling besar sehingga kayuhan tepat di posisi paling ringan; kalau istilah bahasa jawanya jalannya jadi seperti “ngiplik”

Dan satu keuntungan lagi bagi saya saat itu adalah teman bersepeda yang bersama saya meski sudah termasuk senior akan tetapi cara bersepedanya cukup santai sehingga tidak membuat saya terpancing untuk mempercepat kayuhan yang tentu saja akan membuat nafas saya cepat habis ...

Nah, pengalaman dari perjalanan ini adalah :

Pertama, saat menanjak sebisa mungkin saya akan mengurangi power, dan mencoba mengayuh dengan cara sesantai mungkin ataupun “ngiplik”

Kedua, saat bersepeda akan mengukur kekuatan diri sendiri, tidak terpancing dengan yang lain karena setiap orang mempunyai kekuatan yang berbeda; biarlah yang senang cepat silahkan cepat dan yang terbiasa sedang melakukan juga kayuhan dengan cara yang sedang sedang saja, atau

Ketiga, cara yang paling aman ialah mencari teman teman bersepeda yang ritme kayuhan dan kecepatannya sama.

Dan, ternyata perjalanan dengan ritme yang sedang sangat cocok dengan saya, karena banyak sekali bonus yang saya dapat; yaitu bisa menikmati pemandangan indah di sekitar dengan seksama, bahkan mengabadikan dalam bentuk gambar, untuk kemudian dibagikan pada yang lain.

So, apa pelajaran atau hikmah yang saya dapat dari perjalanan tersebut ?

Hikmah yang saya dapatkan dari pengalaman diatas adalah semacam filosofi perjalanan hidup yang sebetulnya sudah pernah saya dapatkan sebelumnya yaitu saat saya melakukan perjalanan bersepeda di Gua Jepang yang juga pernah saya ulas dalam tulisan saya dengan judul Titik Balik, dimana bahwa untuk melakukan perjalanan menanjak, kita jangan terpancang pada sampainya di puncak akan tetapi nikmatilah kayuhan demi kayuhan dengan sukaria sehingga tanpa terasa nanti pasti akan sampai di puncak! Begitu juga untuk saat menjalani hidup ini, nikmatilah setiap (proses) perjalannya dengan sukaria, pasti semua akan sampai pada puncaknya!

Hanya saja, di perjalanan kali ini; saya disempurnakan untuk lebih memoles proses saat saya melakukan kayuhan agar/dengan penuh kesabaran, dengan cara yang lebih “smooth” dan “nyaman”  ...

Perjalanan mengayuh masih panjang, penuh dinamika, kadang menanjak kadang menurun; nikmatilah semua itu dengan suka cita, karena perjalanan ini, adalah perjalanan untuk mengisi hidup, agar jiwa kita senantiasa muda dan terbarukan ...

#Pemandangan diatas jembatan di tengah perjalanan sebelum tanjakan yang cukup menawan pula

#Pemandangan Belik Bei Kayangan

#cukup segar juga mandi di Belik Bey Kayangan sambil bersuka ria dan bernostalgia bermain "ciblon" (memainkan irama musik dengan air) hmmm serasa masih seperti anak anak, tanpa beban ...

 #Selain bermain air ,makan lotis bersama cukup menambah kekuatan dan kesegaran tubuh :

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas