Artikel

The Other side of Jogja

Jumat, 27 Februari 2015 | 10:32:00

Mengawali tulisan ini saya ingin mengucapkan rasa salut dan terima kasih saya kepada teman-teman canting (kompasioner Jogja) yang selama ini telah banyak mempunyai ide segar dalam setiap kegiatannya. Bahkan, bukan hanya sekedar ide segar saja akan tetapi reman-teman kompasioner Jogja yang telah tergabung dalam Canting bahkan telah mengemplementasikan ide-ide segar mereka kedalam bentuk “kepedulian yang nyata” antara lain adalah membantu (membentuk) sebuah sanggar yang mereka sebut Sanggar Anak Sudio Biru di mana mereka secara sadar telah membantu penduduk desa pelosok dan tertinggal dengan membangun sebuah studio yang sederhana, tetapi penuh dengan kegiatan yang membangkitkan semangat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi anak-anak didesa tersebut. Kepedulian dan semangat yang sungguh patut kita contoh dan support bersama. Setelah dari Studi Biru yang berada di kawasan pelosok Klaten, saya dengar juga mereka sedang bergerak untuk membuat sebuah kegiatan yang sama yang rencananya akan dilakukan di sekitar Borobudur.

SemangArt Teman-teman Canting!

SemangArt adalah istilah/kata-kata penyemangat dari teman-teman canting). Di sisi lain, selain kepedulian mereka untuk terus tetap melanjutkan sebuah kegiatan yang membangkitkan semangat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan pada yang memerlukan, tidak lupa mereka juga tetap membangun kebersamaan dalam mengumpulkan berbagai ide dalam bentuk tulisan. Untuk kali ini, ide ini dicetuskan oleh mbak Elisabeth Murni dalam bentuk kegiatan tulis menulis yang telah ditentukan topiknya pada setiap bulannya untuk kemudian dikumpulkan dalam bentuk blogrol.

Sebuah ide bagus yang perlu kita sambut sebagai sebuah tantangan. Ya, tantangan untuk membuat sebuah tulisan bersama dalam berbagai sudut pandang yang berbeda. Di sinilah nilai posotifnya, sebuah obyek yang akan menjadi multidimensi penafsiran dan nilai-nilainya, di mana nilai-nilai tersebut sangat tergantung dari mana kita melihat sudut pandangnya. Dari berbagai sudut pandang yang berbeda ini kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata untuk menjadi lebih baik, lebih maju dan lebih dewasa dalam berpikir kita harus berani untuk saling belajar mengerti akan perbedaan itu, untuk kemudian kita menjalani sebuah kehidupan baru dalam bentuk yang lebih ber warna-warni.

Untuk itu, buat mbak Elisabeth Murni, dengan senang hati saya mencoba untuk ikut (selalu?) “memeriahkan” kegiatan positip ini, meski tanpa ada imbal balik berupa hadiah ataupun sejumlah uang …

Dan yang pasti, setelah suntuk dengan berbagai kesibukan dan lama tidak menulis, tulisan ini adalah sekaligus sebagai pengobat rindu saya untuk (bisa selalu) menulis …

Belajar Mencintai Tanah Air secara Sederhana

Saya yang lahir dan dibesarkan di Jogja merasa harus bisa mencintai dan membesarkan nama Jogja dengan berbagai cara. Itu bukan semangat kedaerahan atau bahkan kesukuan. Menurut saya, untuk mencintai tanah air secara keseluruhan, bisa kita mulai dengan cara yang sederhana yaitu mencintai tempat di mana kita hidup dan menetap. Kkebetulan saya hidup dan menetap di Jogja. Jadi, untuk itulah dalam berbagai kesempatan saya selalu berusaha ikut mempromosikan tentang Jogja.

Jogja memang Sangat Istimewa

Ada bebarapa hal yang membuat saya bisa mengatakan bahwa Jogja sangat istimewa, antara lain adalah :

Pertama, bahwa sejak didirikan pada tahun 1756 oleh R.M. Soejono yang kemudian bergelar Pangeran Mangkubumi yang tak lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwana I, letak tata kota Jogja sudah diperhitungkan secara sempurna. Tata leatk kota yang mengandung falsafah yang sangat tinggi.

Pada saat mendirikan bangunan-bangunan yang ada di Kraton saat ini, Sri Sultan Hamengkubuwana I, tidak saja melihat aspek estetik saja, tetapi juga aspek kosmologi dan relijius, sehingga bangunannya ditata berdasarkan konsep dan wawasan integral makro dan mikro kosmos. Aspek ini mencakup dimensi integral lahir dan batin serta dimensi temporal awal-akhir. Itulah sebabnya semua bangunan yang ada kaitannya dengan Keraton mempunyai arti dan makna tersendiri sesuai dengan fungsí bangunannya.

Secara totalitas seluruh bangunan Keraton yang berfungsi sebagai inti (pancer) merupakan gambaran “jati diri” dan proses kehidupan manusia. Sebagai mahluk Tuhan, manusia diingatkan akan eksistensinya di dunia ini. Demikian pula hubungannya dengan Makro Kosmos (alam semesta), yang intisarinya dapat “dimasukkan” ke dalam diri manusia sebagai Mikro Kosmos.

Kesadaran akan keberadaan dirinya ini merupakan kesadaran akan kehidupan (Sangkan Paraning) dan kesadaran akan tujuan hidup dengan menjadi akhir. Proses ini dilakukan dalam bentuk “mengisi” hidup dengan menjadi “manusia ingkang pramana”, “manusia sejati” dengan meningkatkan kualitas surgawi dan keTuhanannya. Proses ini oleh Dr. Damarjati Supadjar disebut sebagai proses tingkatan Melek-Melek dan Melok. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati oleh Ki Ronggowarsito disebut sebagai “kasampurnaning Ngaurip”
Seluruh proses sangkan paraning manungsa dan sangkan paraning dumadi tersebut digambarkan dalam bentuk bangunan Keraton, mulai dari Laut Selatan - Gunung Merapi. Khususnya garis kemanusiaan yaitu antara Panggung Krapyak sampai Tugu Pal Putih sebagai Alif Mutakallamin Wachid. Garis yang menghubungkan antara Laut Selatan (segara kidul) dengan Gunung Merapi ini disebut “Sumbu Imajiner” dan garis spiritual kelanggengan. Mulai dari terbentuknya benih (wijil) manusia di Panggung Krapyak sampai kembalinya manusia kepada Tuhannya yang digambarkan dengan kukuhnya Gunung Merapi sebagai “Swarga Pangrantunan”.

Tidak semua manusia “beruntung” untuk mendapatkan “Nur Illahi” dalam bentuk garis lurus tadi (Siratal Mustaqim), tetapi banyak juga yang dalam proses kehidupannya “tergoda” oleh berbagai macam kenikmatan duniawi baik di kiri dan kanan dirinya. Gambaran ini diwujudkan dalam bentuk banyaknya godaan akan wanita dan kebendaan yang digambarkan dalam bentuk pasar Beringharjo, serta godaan akan kekuasaan yang digambarkan dalam bentuk komplek Kepatihan, yang kesemuanya berada pada sisi-sisi jalan lurus antara Keraton dan Tugu Pal Putih, sebagai lambang manusia yang dekat dengan penciptanya, atau manunggaling kawula Gusti..

Konsep filosofis inilah yang mendasari bahwa planologi kota Yogyakarta tidak saja mempunyai nilai estetika dan efisiensi ke-tata ruangan saja, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang adi luhung serta harmonisasi hubungan antara manusia sebagai “jagad cilik” dengan alam semesta sebagai “jagad gedhe”. Demikian pula harmonisasi antara manusia sebagai mahluk individu dengan manusia sebagai mahluk Tuhan, manusia sebagai mahluk pribadi dan manusia sebagai mahluk social. (Filsafat Kota Yogyakarta - Khairudin H. Penerbit Liberty Yogyakarta).

.

Kedua, peristiwa kesediaan Yogjakarta yang terlebih dahulu merdeka, untuk menjadi Ibukota RI, bagi saya itu bukanlah sebuah kejadian yang bisa dilupakan begitu saja. Kota Jogja saat itu bisa diibaratkan sebagai seorang dewasa yanag sedang “momong” bayi kecil yang bernama NKRI dengan berbagai “support” yang tidak kecil termasuk dengan sumbangan 6 juta gulden dari kantong Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk biaya pemindahan ibukota RI ke Jogja.

Perlu diketahui bahwa saat itu kondisi keuangan Indonesia sangat memprihatinkan; sehingga bila tidak ada “kucuran dana” tersebut barangkali sejarah akan berbicara lain. Sebagai tambahan referensi bisa anda baca pada tulisan saya terdahulu dengan judul 6 Juta Gulden Untuk pemindahan Ibukota RI.

Ketiga, sebagai bentuk keberpihakan pada rakyat, gubernur yang menjabat saat ini yaitu Ngerso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, tidak pernah melakukan hal-hal yang “bersifat” menyengsarakan rakyat; rakyat dipersilahkan memilih dalam cara mencari hidup dan penghidupannya tanpa harus merasa dikejar-kejar oleh aparat pada setiap harinya karena adanya larangan beraktifitas kerja.

Sebagai contoh adalah jarana atau bahkan tidak ada seorang penarik becak dilarang beroperasi di kota Jogja, bahkan di Malioboro ada ketentuan becak motor dilarang beroperasi di Maliobor dengan maksud agar para penarik becak tak bermotor dalam hal ini adalah rakyat yang memang “lebih” tidak mampu bisa mempunyai lahan yang “lebih” luas pula.

Satu contoh lagi adalah bahwa disetiap sudut kota Jogja bisa kita dapati pedagang kaki lima yang bisa berjualan dengan leluasa tanpa harus merasa takut dikejar aparat.

Baru bila keberadaan pedagang tersebut dirasa menggangu ketertiban umum ataupun mengganggu aktifitas seseorang karena memakan/memenuhi lahan orang tersebut, pedagang tersebut dimohon utnuk pindah, itupun dengan jalan memberi tempat baru yang juga dipersiapkan dengan baik sehingga dalam berdagang tempatnya bisa representatif, semisal pedagang “klithikan” di jalan Mangkubumi dan Pasar Beringharjo dipindah dan diberi lahan baru yang sangat representatif yaitu pasar Klithikan Kuncen. Begitu juga dengan pasar burung “Ngasem” yang berada di cagar budaza Kraton yang di pindah di daerah dongkelan.

.

.

Kios pedagang Kaki Lima disepanjang Jl Senopati yang seragam dan tertata rapi

.

Bila mereka di beri kebebasan, kreatifitas bahkan akan muncul dengan sendirinya …

Belajar Mencintai Tanah Air dengan Cara Memberi Masukan

Untuk membangun sebuah daerah (Kota Jogja) kita memang tergantung pada pengambil keputusan dalam hal ini adalah kepada daerah / Kota yang dimana bila Kota Jogja dijabat oleh Walikota. Meskipun demikian saya merasa yakin bahwa keputusan-keputusan itu adalah juga merupakan hasil pemikiran dan masukan-masukan dari berbagai lapisan masyarakat Jogja.

Mengapa saya bisa mengatakan yakin ?

Sebab dalam sebuah kesempatan,  saya pernah mengajukan permohonan untuk bisa bertemu dengan Walikota Jogja dengan maksud untuk memberi masukan. Permohonan saya tersebut dikabulkan sehingga saya bisa bertemu Walikota di ruang kerjanya dan dengan leluasa saya bisa menyampaikan pemikiran saya kepada beliau dan jajarannya.

(Karena masa jabatan Walikota yang sekarang akan segera berakhir, harapan saya untuk penggantinya, mudah-mudahan bisa seperti Walikota yang sekarang atau bahkan lebih …)

Meskipun demikian, untuk memberi masukan kita tidak harus menghadap secara langsung di ruang kerjanya melainkan bisa melalui media lain semisal media ini …

Setelah saya mengulas beberapa hal yang membuat saya berbangga dengan “ke Istimewaan” Jogja kali ini saya ingin mengulas beberapa hal dibalik ke Istimewaan tersebut.

Jogja, selain sebagai kota budaya sejak dulu juga terkenal sebagai kota pariwisata dan juga kota pelajar, di balik semua itu ada berbagai hal yang saya rasa masih sedikit memprihatinkan dan perlu kita benahi bersama, terutama adalah masalah sampah, papan reklame yang tidak teratur, kehidupan malam dan dampak teknologi informasi yang semakin memicu pergaulan bebas.

Sampah

Sebagai kota pariwisata Jogja tidak begitu saja menuai “hasil pariwisata” tersebut dalam bentuk yang positip saja melainkan juga sebaliknya.

Karena luas kota Jogja yang relatif tidak besar, maka kepadatan arus kendaraan bermotor terutama mobilnya membuat kota Jogja menjadi nampak sangat sesak dan penuh dengan polusi, belum lagi bila hari libur tiba. Dapat dipastikan disudut-sudut kota Jogja akan terjadi banyak kemacetan! Sehingga sangat bijaksana bila hal ini perlu juga menjadi bahan pemikiran kedepan bagaimana cara mengatasi kepadatan lalu lintas ini dengan aturan yang bisa membuat nyaman baik pengendara maupun para pengguna jalan yang lain, terutama adalah pengguna jalan Malioboro yang tentu saja ingin berlibur dengan nyaman.

Selain polusi, sampah yang selalu berserak terutama di sudut-sudut jalan Malioboro juga merupakan sebuah keprihatinan sendiri bagi kita yang mencintai keindahan dan kehijauan lingkungan. Meski sudah disediakan tempat sampah, karena ketidak disiplinan para pengunjung Malioboro, selalu saja ada sampah yang mereka buang secara sembarangan terutama di tempat yang mereka anggap dekat dan enak untuk membuang yaitu dimana lagi kalau bukan tempat sekitar mereka duduk-duduk.

Saya kadang berpikir, apa perlu kita menggunakan petugas untuk mengawasi dan mengingatkan tentang kedisiplinan membuang sampah, terutama di Malioboro dan tempat wisata Jogja lainnya …

Papan Reklame

Dalam sebuah tulisan saya terdahulu, mas Pascual Duarte pernah memberi komentar positip tentang Jogja yang belum bisa tertib dalam masalah reklame. Dalam satu kesempatan pada acara Earth Hour, jauh sebelum mas Pascual Duartememberi komentar, saya juga pernah berdiskusi tentang hal tersebut termasuk bagaimana cara pemecahannya yang pada intinya adalah hal tersebut tergantung pada kebijaksanaan pemerintah daerah.

Memang saya menyadari bahwa papan reklame adalah sisi lain untuk bisa mendapatkan pemasukan dana dari pajak, sebagaimana pada iklan siaran TV yang tidak bisa dihindari sebagai penopang berjalannya sebuah kegiatan/acara. Namun alangkah eloknya bila tidak semua reklame diijinkan dipasang,, sebab ada dan bahkan banyak juga papan reklame yang tidak memberi kontribusi dana terpasang disetiap sudut kota Jogja.

Nah, ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang barangkali bisa segera diselesaikan oleh Walikota Jogja yang baru nanti.

Kehidupan Malam dan Dampak Teknologi Informasi yang Semakin Memicu Pergaulan Bebas

Jujur saja, dalam sebuah kesempatan saat saya duduk-duduk di sebuah sudut Malioboro, saya pernah didatangi seorang wanita yang mengajak saya berkencan disuatu tempat. Dari rasa penasaran saya, meski sedikit merinding dan sedikit risih karena melihat penampilan wanita tersebut yang tergolong “lusuh” saya mencoba menanyakan tempat dimana saya bisa kencan. Saya sungguh terkejut, bahwa tempat yang disebutkan wanita itu adalah tempat dimana lokasi tersebut sudah tidak diperbolehkan untuk hal-hal seperti diatas oleh pemerintah daerah.

Demi menuntaskan rasa penasaran saya diatas saya mencoba untuk berseluncur di dunia maya dan mencari tahu tentang kehidupan malam di Jogja. Dengan beberapa “kata kunci” saya mencoba mencari tahu hal tersebut. Ternyata dari hasil penelusuran tersebut, membuat saya sangat terkejut. Betapa tidak selain tempat di mana saya ketemu dengan “wanita malam” tersebut disebut, ada lagi yang membuat saya lebih terkejut lagi, betapa tidak, di dalam Internet jelas-jelas tercantum nama nomer telpon yang bisa dihubungi bahkan foto yang bersangkutan. Dan dari hasil penelusuran saya dari sumber yang bisa dipercaya, diantara mereka tidak sedikit yang berstatus sebagai mahasiswa. Adapun “pelayanan” mereka terbagi dalam dua kategori yaitu dari (maaf) pelayanan oral sex saja hingga “pelayanan” kepuasan hubungan bak suami istri. Untuk kategori yang pertama dengan alasan karena demi kebutuhan biaya kuliah namun tetap menjaga “kehormatan”(?)/mahkota meski dengan imbalan yang tidak seberapa banyak. Sedang kategori kedua jelas demi mencari uang sebanyak-banyaknya. Dan yang menjadikan catatan disini adalah hal tersebut dilakukan di ruang-ruang jasa persewaan Internet!

Saya pribadi, tidak memandang dunia ini hitam putih saja, tapi ada juga sisi lain diantaranya. Dan yang saya pikir dari mereka bukan masalah apakah mereka berdosa atau tidak karena saya bukanlah malaikat atau bahkan Tuhan yang berhak menghakimi mereka tanpa melihat dari latar belakang dan alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Hanya saja yang saya khawatirkan disini adalah bila para mahasiswa tersebut yang tadinya datang dengan tujuan untuk mengejar ilmu dan setelah tahu dengan sangat mudah mencari penghasilan dengan cara tersebut lalu menjadi lupa akan tujuan awalnya karena merasa terlena oleh “kemudahan” tersebut tidakkah ini akan menjadi sebuah ironi bagi Jogja yang bergelar sebagai kota pelajar, dimana kota pelajar adalah tempat untuk belajar dan mendidik orang agar tekun mencari ilmu yang dihari kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk untuk mencari nafkah dengan cara yang lebih berkwalitas.

.

Sebagai catatan akhir, melalui tulisan ini saya hanya ingin menyajikan beberapa fakta yang ada di Jogja, fakta yang merupakan sisi lain di balik ke Istimewaan Jogja yang sangat saya cintai, fakta yang masih perlu untuk terus kita diskusikan bersama secara arif untuk mencari penyelesaian yang paling bijak.

.

Sebagai penutup, bagi Anda yang berada diluar Jogja, meski apapun itu sisi lain dari kehidupan yang ada di Kota Jogja sebagaimana juga terjadi di kota-kota lain, saya selalu tak bosannya untuk mengajak Anda untuk tetap berkunjung ke Kota Jogja dengan mengucapkan 2 patah kata :

Ayo ke Jogja!

Salam hangat saya

Kaki Merapi September 2011

http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/12/the-other-side-of-jogja-395156.html

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas