Artikel

The Other side of Jogja Royal Wedding

Jumat, 27 Februari 2015 | 11:22:00

 

Courtesy : Google

.

Perhelatan Kraton berupa Pawiwahan Ageng telah mencapai puncaknya pada hari Selasa 18 Oktober 2011 berupa resepsi pernikahan yang dihadiri berbagai kalangan termasuk diantaranya adalah Kepala negara yaitu bapak SBY sebagai Presiden RI dan beberapa pejabat serta para menteri pada pagi harinya; untuk kemudian dilanjutkan dengan resepsi pada malam harinya;  yang sore sebelumnya terlebih dahulu dilakukan Kirab Penganten dengan rute Kraton sampai dengan Bangsal kepatihan yang disambut sangat antusias oleh segenap masyarakat Jogja dan sekitarnya serta adapula dari barbagai kota seperti Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya yang menyempatkan untuk hadir untuk sekedar menyaksikan acara ini.
Dan sehari kemudian beberapa koran menempatkan acara Kirab ini sebagai headline nya dengan berbagai judul seperti :

“Kirab membelah lautan Manusia”
“Rakyat Jogja ikut berpesta”
“Bendara Capek salami 4.000 tamu”

Namun dibalik kemeriahan itu masih ada juga berbagai hal yang terselip dan belum terpublikasikan secara luas sehingga  kiranya perlu saya tulis disini agar masyarakat luas bisa lebih mengetahuinya secara lengkap tentang rangkaian perhelatan besar ini, hanya saja beberapa hal yang telah diulas ataupun diliput media masa tidak termasuk yang akan saya sampaikan, diantaranya adalah upacara siraman dan lainnya.
.
Ulang tahun Kota Jogja melengkapi kemeriahan perhelatan ini!
.
Bahwa sebelum perhelatan besar atau Pawiwahan Ageng ini dimulai, sehubungan berbarengannya dengan ulang tahun Jogja yang mempunyai berbagai agenda kegiatan; maka untuk lebih membuat suasana Jogja lebih istimewa, pada tanggal 6 oktober dari jam 21.00 WIB - 24.00 WIB, dibuatlah sebuah perpaduan acara yang menarik yaitu  Kerlap kerlip mengiringi temanten yang sekaligus juga peresmian Jl Mangkubumi sebagai surga para pesepeda Jogja dengan judul “Mangkubumi Late Nite Bicycle Playground” dengan calon penganten yaitu GKR Bendara dengan KPH Yudanegara sebagai pengayuh sepeda paling depan yang menunjukkan bahwa telah terjadi perpaduan yang “klop” antara Pemkot dan Penda serta masyarakat Jogja untuk menjadikan Jogja sebagai kota sepeda kembali.
Adapun Start dimulai dari Kraton Kilen dengan kedua calon mempelai mengendarai sepeda tandem kuno berada di paling depan untuk kemudian diikuti para pesepeda dari Podjok dan pesepeda lainnya.
Rute perjalanan sebenarnya awalnya akan melalui Malioboro ke utara, akan tetapi karena antusiasme para pesepeda yang secara otomatis telah menutup jalan sepanjang Malioboro maka rute akhirnya dibelokkan ke arah Jl. KH. Dahlan untuk kemudian belok kearah utara.
Sesampai di daerah Jl. Mangkubumi dan Tugu pun ternyata jalan juga sudah dipenuhi oleh para pesepeda sehingga untuk malam itu para pesepeda benar-benar telah menemukan surganya!

Kerlap kerlip mengiringi temanten sesaat akan melakukan kayuhan pertama dengan memakai sepeda tandem tua produk tahun 1930

.

Sebelum berangkat mengiring calon penganten, saya sempatkan untuk minta foto bersama

Jadi ingat masa muda saya; ternyata saya (tak) segantheng dan segagah calon penganten pria!

Malam menjelang perhelatan Pawiwahan Ageng, Malioboro sangat lengang!
.
Menjelang malam menjelang perhelatan, merasa aneh juga saat mencoba berjalan menyusuri Malioboro pada sekitar jam 21.00 WIB dengan suasana yang lengang. Dengan terus berjalan perlahan karena ragu, akhirnya sampai juga disisi lain ujung Malioboro dengan aman …he .. he ..
Memang malam itu jalan Malioboro belum ditutup untuk umum, akan tetapi barangkali karena banyak yang ragu ataupun demi menghormati(?) rajanya; pada malam itu tak banyak juga yang lalu-lalang di Malioboro!
.
Malioboro dihiasi 100 Penjor bertaraf Internasional !
.
Barangkali Anda semua belum  tahu bahwa hiasan penjor yang ada di sepanjang jalan yang dilalui kedua mempelai adalah penjor yang dibuat oleh perancang yang didatangkan dari luar kota yaitu dari Purworejo dan penjor tersebut adalah penjor bertaraf Internasional!
.
Hotel di Ring 1, 2 dan 3 diatas 80 persen!
.
Tingkat hunian hotel di Jogja menjelang perhelatan ini ternyata cukup significan juga
Misalnya di Ring 1 yaitu Hotel Melia, Inna Garuda mencapai 90-100, di ring 2 seperti Hotel Ponix, Santika, Novotel  mencapai 80-90 persen begitu juga dengan ring 3 yang berada di kabupaten Sleman seperti Hotel Grand Quality, Puri Artha,  Sheraton, Hyat Regency tinglar huniannyapun bisa mencapai diatas 80 persen!
Untuk sejumlah hotel yang menyandang Hotel official penerima tamu, wajib memberi informasi lengkap terkait oentelenggaraan Royal Weding; dengan maksud agar para tamu hotel tidak akan melewatkan satu upacara pun dalam rangkian perhelatan tsb.

.
Walikota dan camat menjadi penerima tamunya.
.
Sebagai penerima tamu dalam pawiwahan ageng ini Walikota Jogja yang juga sudah mendapat gelar dari Kraton adalah salah satunya, selain walikota, para camat disertakan juga sebagai penerima tamu.
.

Walikota Jogja Herry Zudianto dan istri sedang bersiap menjadi penerima tamu

.

Pesta rakyat dengan menggelar 200 Angkringan gratis !
.
Sebagai bentuk rasa syukur rakyat Jogja kepada Rajanya yang telah memberi rasa aman dan nyaman pada rakyatnya, maka dengan kesadaran yang tinggi rakyat Jogja dengan berbagai lapisan masyarakat dan komunitasnya untuk memeriahkan pesta atau pawiwahan ageng  ini; secara kompak menggelar dagangan berupa angkringan sejumlah 200 di sepanjang Malioboro!
Dan tanpa diduga karena begitu antusiasme dan begitu banyaknya masyarakat yang datang berduyun-duyun memenuhi jalanan sepanjang Malioboro; begitu makanan disajikan, dalam hitungan detik disetiap sudut angkringan langsung ludes semua!
.

.

Bung Roland dalam peliputan Jalan Pagi Trans7, hanya kebagian 1 bungkus nasi!

.

Demikian sedikit tulisan yang bisa saya selipkan diantara tulisan yang telah ada di media; mudah-mudahan tulisan ini bisa sedikit melengkapi tulisan yang telah ada.
.
Sebuah catatan yang perlu saya sampaikan disini adalah mengapa pesta pernikahan ini begitu dibuat “lebih” istimewa dari yang sebelumnya; ada beberapa tanggapan yang tidak muncul dipermukaan yang disampaikan beberapa anggota masyarakat Jogja bahwa dengan perhelatan besar ini, dengan memakai jalan Bangsal Kepatihan sebagai tempat diadakan upacara pernikahan, dan dengan membuat rute yang membelah jalan Malioboro menerjang arus lalulintas, ada sesuatu yang perlu direnungkan oleh semua lapisan masyarakat termasuk para petinggi terutama yang berada di pusat; bahwa yang punya hajatan kali ini adalah raja yang memiliki Kota Jogja!
Bahwa Kepatihan sebagai pusat pemerintahan kota Jogja, secara de facto dan de jure adalah milik pribadi “ngerso dalem” begitu juga tanah-tanah lain yang tersebar di berbagai penjuru kota Jogja yang kebanyakan telah di tempati warga Jogja sehingga bila hal-hal yang berhubungan dengan ke-Istimewa-an Jogja selalu di “uthik-uthik” sebaiknya mulai saat ini mereka harus berpikir ulang untuk tidak “Ngutak-uthik” lagi, sebab bila hal tersebut masih dilakukan; masayarakat Jogja tidak rela dan tetap membela agar Jogja tetap sebagai daerah Istimewa dan keluarga Kraton sebagai Gubernurnya!
Inilah salah satu dari sekian alasan yang tidak mengada-ada melainkan alasan yang sangat sederhana, lugas, logis dan bisa diterima secara nalar!
.
So, mulai sekarang marilah kita belajar berpikir dengan hati dan nalar.
.
Salam hangat saya
Salam dari Kota Jogja yang Istimewa

Dan berikut adalah suasana keramaian disaat penyambutan penganten oleh rakyat!

..

Demi sebuah event yang langka mereka tetap berani ambil resiko!

.

.

.

.

Beberapa angkring yang jauh dari Malioboro masih menyisakan beberapa makanan

http://regional.kompasiana.com/2011/10/20/the-other-side-of-jogja-royal-wedding-405001.html

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas