Artikel

The Phenomenon

Rabu, 05 April 2017 | 00:00:00

Membaca kembali tulisan saya yang berjudul Inilah Gaya Hidup Anak Muda Jogja Saat Ini yang saya tulis sekitar 5 tahun yang lalu saya jadi berpikir bahwa mengumpulkan orang yang mempunyai kesamaan hobi dalam jumlah yang banyak bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah

Andai bisa barangkali hanya ada beberapa orang yang mampu melakukannya, sehingga kejadian seperti itu hanya akan terjadi dalam masa tertentu untuk kemudian muncul kembali selang beberapa masa kemudian dan menjadi semacam fenomena.

Nah, fenomena yang bagi saya cukup menarik untuk dicermati ini akan saya coba paparkan berdasar apa yang telah saya alami, walaupun orang yang ada dibalik semua itu tidak suka di ekspos melainkan lebih suka berada dibelakang layar

Agar tidak penasaran, silahkan simak paparan lengkap saya berikut ini

--

 

Sekitar 6 th yang lau disuatu sore saya bertemu dengan rombongan pesepeda yang mengular.

Saat saya tanyakan rombongan apa mereka menjawab dengan menyebutkan 4 huruf namun saya tidak cukup jelas mendengarnya dikarenakan sambil lalu dengan mengendarai sepeda motor

Sesampai di rumah saya membuat satu status di Facebook bahwa suatu saat Jogja yang pernah mendapat predikat sebagai kota sepeda akan kembali semarak diisi oleh pengendara sepeda walau itu baru sebatas pada hobi saja

Selang beberapa bulan kemudian saya mendapati bahwa rombongan bersepeda yg mengular tsb adalah JLFR yang ternyata pada setiap Jumat Akhir bulan selalu diadakan dan diikuti ratusan pesepeda

Setelah saya masuk dan ikut berpartisipasi saya jadi tahu sejarah awal mula ada kegiatan JLFR yang dilakukan setiap bulan ini dimana kegiatan ini diawali dan di gagas hanya oleh beberapa orang saja hingga menjadi besar dan menjadi semacam fenomena.

Nah, fenomena tersebut sekarang seperti terulang kembali dengan hadirnya sebuah komunitas baru

Namun sebelum saya memaparkan komunitas apa yang saya maksud tersebut saya ingin mengajak Anda semua melihat secara kilas balik, apa saja kiprah teman teman penggiat JLFR selain yang sudah saya tulis dalam tulisan saya yang berjudul Inilah Gaya Hidup Anak Muda Jogja yang didalam tulisan tersebut belum detail saya tulis dikarenakan saat saya membuat tulisan itu saya belum lama ikut berpartisipasi dan juga belum tahu secara detail apa saja aktifitas positif yang dilakukan selain aktifitas bersepeda bersama sebagai critical mass

Secara singkat kegiatan JLFR selain berkumpul bersama merayakan kegembiraan dengan cara bersepeda antara lain adalah aksi sosial yang dananya didapat dari para penggiat JLFR dengan mengedarkan kotak yang sifatnya sukarela, dari Rp. 1000, Rp. 2000 atau berapapun.

Kegiatan pengumpulan danapun tidak pernah diperoleh dari sponsor maupun pribadi terutama yang mengkaitkan dengan bantuan yang bermuatan politik

Adapun beberapa aktifitas sosial yang dilakukan antara lain adalah :

~ Pembuatan tong sampah yang dipasang di jalan Mangkubumi

~ Pemberiab caping kepada pengemudi becak kayuh

~ Pemberian bantuan pada beberapa pengguna sepeda yang ter/ditabrak pengguna kendaraan bermotor

Adapun aktifitas positif lain adalah :

~ Bekerja sama dengan seniman, kaum difable dan penggiat lingkungan mengadakan kegiatan "Merti Kutho" yang isi kegiatannya adalah membersihkan kota Jogja dari sampah visual yang menggunakan ruang publik sebagai ajang iklan; selain itu juga sekaligus membuat rambu bagi kaum difable dan juga rambu rambu sepeda

Selain hal diatas masih banyak kegiatan positif lain yang dilakukan yang pada intinya adalah, betapa gerakan yang semula hanya diprakarsai hanya oleh beberapa orang dengan latar belakang hobi berseepeda tersebut bisa menjadi besar dan menjadi fenomena karena sempat juga beberapa kali menjadi pembicaraan di media bahkan sampai ada tanggapan dari anggota legislatif dan jadi perbincangan di media masa

Untuk akhir akhir ini karena saya tidak begitu intens lagi mengikuti kegiatan JLFR saya tidak begitu tahu persis apa saja aktifitas aktifitas  lain disela aktifitas berseepeda yang dilakukan .

.

Nah, ditengah sedang tidak aktifnya saya pada kegiatan JLFR;  saat ini telah muncul sebuah komunitas yang beberapa kali saya sudah mengikutinya, yaitu Komunitas Pitnik Jogja yang awal kegiatannya hampir sama dengan aktifitas awal JLFR. Andai dulu JLFR diawali dari 2, 3 sampai 10 orang maka Komunitas Pitnik Jogja diawali dari sekitar 15 orang, dimana karena saat mengikuti saya juga mengajak teman teman yang lain juga sekitar 10 sampai 15 orang maka secara keseluruhan ada sekitar 30 orang.

Dan dari jumlah awal sekitar 30 orang, kemudian secara pelan dan pasti jumlah keanggotaannya menjadi semakin banyak, yaitu dari 50, 75 hingga saat ini sudah menjadi ratusan orang.

Itu juga terbukti dengan jumlah pesanan kaos model terakhir  yang tercatat sampai hampir 1 juta!

Inilah sebuah fenomena seperti saya katakan diawal bahwa tidak semua orang bisa mengumpulkan orang yang mempunyai kesukaan yang sama dalam jumlah yanag banyak; pasti ada rahasia akan hal tersebut, dan banyak faktor yang menyebabkannnya.

Rahasia Komunitas Pitnik Jogja yang semakin besar dimana setiap kali diadakan Gowes Bareng di setiap Minggu Wage barangkali kalau saya boleh menganalisa beberapa kunci utamanya adalah :

~ Ikhlas tanpa pamrih karena demi hobi/kesuakaan dan kebaikan bersam

~ Tidak menonjolkan diri atas apa yang telah dicapai.

~ Mempunyai manajemen terbuka dan menghormati kebebasaan individu

Andai sedikit saya uraikan ketiga hal diatas secara detail adalah demikian

~ Ikhlas, saat membentuk sebuah Komunitas hanya mempunyai pikiran sekedar menyalurkan hobi dan tidak mempunyai maksud untuk mencari nama ataupun keuntungan.

~ Tidak menonjolkan diri yaitu selalu andap asor saat menemui teman baru dan bersedia nylondoh serta menghargai orang lain demi terjalinnya silaturahmi yang baik

~ Dalam manajemen terbuka selalu welcome terhadap anggota ataupun simpatisan baru yang mempunyai perbedaan dan mencoba memahami setiap karakter pribadi masing masing; bersedia menerima masukan. Dan dalam hal kebebasan adalah tidak diterapkannya aturan kaku yang harus dilakukan dan diterapkan pada para anggotanya saat bersepeda, semisal harus menggunakan jersei/seragam komunitas, harus memakai helm dan semacamnya; karena semua sudah dianggap dewasa dan tahu resiko dan tanggung jawabnya.

Nah, dari ketiga hal diatas terutama dalam hal memberikan kebebasan yang bertanggung jawab itulah yang menjadi rahasia mengapa komunitas tersebut bisa menjadi besar dalam perjalanan aktifitasnya.

Satu hal lagi adalah, cara bersepeda Komunitas Pitnik Jogja yang menurut ukuran saya tidak menggunakan kecepatan yang tinggi karena sesuai namanya yaitu PITNIK, ngePIT itu NIKmat, menikmati bersepeda dengan sungguh dan secara seksama;  maka inilah yang sangat disukai banyak pesepeda, pesepeda jenis apapun.

Itulah sebuah fenomena seperti yang saya katakan diawal;  yang akan muncul pada suatu masa dan baru muncul lagi selang beberapa masa kemudian yang bisa menjadi catatan kita semua bahwa fenomena tersebut tidak bisa muncul dengan cara instan, apalagi dengan aturan yang kaku.

Terakhir, seperti halnya JLFR,  di sela aktifitas gowes bareng,  Komunitas Pitnik Jogja juga mempunyai kegiatan lain seperti aksi sosial, menggalang dana bantuan gempa, dan juga mencoba menapaki kembali jejak jejak sejarah bangsa  saat bersepeda, agar kita semua tidak lupa akan jasa jasa para pendahulu kita, dan kemudian menerapkannya dalam konsep kekinian.

Dari satu fenomena ke fenomena lain, sejatinya kita bisa belajar banyak darinya.

Jas merah, jangan lupa sejarah.

Selamat ulang tahun JLFR, Selamat ulang tahun Komunitas Pitnik Jogja

.

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas