Artikel

Untuk apa sih kita bersepeda ?

Sabtu, 08 Oktober 2016 | 00:00:00

Sore ini, begitu saya melihat ibu Dyah Sekar Meranti meng upload foto foto bersepedanya ke Imogiri, saya jadi ingin menuliskan tentang hal bersepeda dengan judul seperti diatas.

Sebelum lebih jauh saya mengulas mengapa dan untuk apa kita bersepeda saya ingin sedikit menjelaskan bahwa ibu Dyah Sekar Meranti yang saya sebut diatas adalah rekan sekerja saya beliau berprofesi sebagai tenaga medis sedangkan saya adalah bagian perkantoran, dimana beliau saat ini sedang memulai sebuah kegemaran baru yakni bersepeda.

Nah, sebagai pemula seperti kata beliau sendiri, beliau belum berani bersepeda secara jauh apalagi yang tanjakannya tajam. Sehingga bagi beliau bersepeda ke Imogiri adalah merupakan  sebuah pengalaman tersendiri, dimana saya sendiri juga pernah merasakannya waktu pertama kali bersepeda sampai ke Imogiri.

Lalu, mengapa beliau berkenan melakukan kegiatan tersebut ?

Mengapa pula makin banyak orang orang melakukan kegiatan bersepeda yang bagi orang lain yang belum melakukannya seperti hanya sebuah kegiatan yang melelahkan saja ?

Atas pertanyaan tersebut saya ingin menguraikannya berdasar pengalaman saya setelah menjumpai berbagai sahabat pesepeda dengan penjelasan sesederhana mungkin seperti berikut ini ...

Sepeda  untuk jaman sekarang adalah merupakan alat transportasi sederhana setelah sendal  karena untuk saat ini makin banyak alat transportasi modern yang di produksi baik itu sepeda motor, mobil, kereta api maupun pesawat terbang dan untuk ke depan barangkali adalah pesawat antariksa.

Bersepeda pada awalnya memang hanya sekedar alat tanportasi untuk mempercepat mencapai tujuan dari satu tempat ke tempat lain. Namun dalam perjalanan  waktu, selanjutnya bersepeda difungsikan ke hal lain juga diantaranya adalah untuk olah raga.

Untuk itu saya berpikir bahwa orang bersepeda tujuannya hanya ada dua hal, yakni

  1. Sebagai alat transportasi sederhana untuk mempercepat tujuan
  2. Sebagai sarana untuk berolahraga

Namun seiring perkembangan pergaulan saya dengan banyak pesepeda maka berkembang pula kesimpulan yang saya dapatkan, yaitu bahwa bersepeda ternyata bukan hanya sekedar dua hal diatas, melainkan banyak hal yang saya temukan; diantaranya adalah :

  1. Bersepeda untuk mengisi waktu yang kosong
  2. Bersepeda untuk berolahraga sambil menikmati keindahan dan kesegaran alam
  3. Bersepeda untuk berolahraga sambil menambah pertemanan atau persahabatan
  4. Bersepeda untuk gabungan diatas dan beberapa hal lain.

Hanya sesederhana dan sebatas itu sajakah penjelasannya ?

Agar Anda lebih memahami dengan gamblang akan saya coba jelaskan secara detail melalui paragraf berikut, yang semoga saja juga akan membuat  Anda bisa lebih mengetahui bahwa bersepeda sebenarnya juga bisa mengisi dan memaknai hidup dan kehidupan ini, melalui filosofi didalamnya...

Sebagaimana jenis jenis sepeda yang berbeda dan bermacam macam yang peruntukannya juga berbagai macam maka kesenangan bersepeda setiap orang berbeda dan bermacam macam pula, diantaranya adalah suka bersepeda didekat dekat saja yaitu di seputaran kampung ataupun desa, bersepeda kota kota, bersepeda di tempat yang jauh, termasuk juga jauh dan kadang menananjak yang sering disebut pula dengan uphill. Adapula yang suka bersepeda downhill yang secara guyonan ada yang mengistilahkan dengan “njondhil”

Tapi dari berbagai macam kesenangan tersebut banyak yang meramunya dengan sering berganti kesenangan yaitu disatu saat sekedar putar kampung atau desa, putar putar kota, disaat lain bersepeda dalam jarak yang jauh dan menanjak, di saat lain lagi melakukan kesenangan dengan bersepeda downhil alias “njondhil”.

Nah, disemua hal diatas apa sih yang dicari ?

Kesenangan bukan ?

Saat mereka bersepeda jarak dekat, mereka ingin bersenang senang dalam skala yang sebentar karena mungkin terbatasnya waktu; saat mereka bersepeda dalam jarak yang jauh mereka sedang mencari kesenangan yang lumayan agak lama dengan bertujuan menikmati keindahan alam baik disetiap perjalanannya maupun pada tujuan utamanya.

Begitu juga saat melakukan perjalanan jauh yang ada tanjakannya, meskipun kadang dibela belain dengan nafas yang kadang sedikit tersengal dan harus banyak menuntun ataupun berhenti namun saat mereka berhasil melalui semua (tanjakan) itu mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan hal yang lebih, apalagi apabila diatas ada sebuah pemandangan yang bagus, pemandangan yang melebihi bagusnya saat dibawah karena makin luasnya jarak pandang mata, untuk kemudian tidak lupa mengabadikannya dalam foto foto untuk kemudian diunggah sebagai sebuah pencapaian yang kadang diluar perkiraan sendiri.

Sebagai catatan, saat melakukan perjalanan yang menanjak, akan lebih menyenangkan dan sedikit ringan atau tidak terasa berat apabila dilakukan bersama dengan beberapa teman, entah itu dua tiga orang, sepuluh orang atau lebih, apalagi apabila teman yang melakukan perjalanan bersama adalah orang yang sabar dan bersedia membimbing dan mengarahkan cara menghadapi tanjakan, bahkan tidak hanya membimbing dan mengarahkan akan tetapi bila terjadi suatu hal akan terus membantu hingga perjalanan bisa  berlanjut.

Nah, kesenangan kesenangan tersebut bisa kita dapat saat bersepeda; terutama saat bersepeda bersama melalui dan menuju sebuah tempat yang indah; karena dengan bersepeda bersama selain kita bisa memperluas persahabatan yang tidak pernah mepertanyakan dan mempermasalahkan latar belakang, tanpa ada persaingan seperti yang sering terjadi ditempat kerja misalnya, juga akan memperluas wawasan, memperluas daya tahan tubuh kita; terutama memperluas motivasi hidup kita yaitu bahwa yang pada awalnya kita tidak bisa melakukan perjalanan bersepeda dalam jarak jauh akhirnya kita bisa; bahwa pada awalnya kita tidak bisa menaklukkan tanjakan dengan “smoth” akhirnya bisa.

Nah, hal tersebut apabila kita jeli mengambil hikmah dalama setiap gerak perjalanan bersepeda kita, banyak filosofi yang bisa kita ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari hari kita.

Sebagai contoh adalah saat pertama kali saya bersepeda dengan tujuan Pathuk Gunung Kidul yang ternyata dilanjut ke Cinomati; waktu itu saya benar benar kelelahan. Dan saat itu rupanya wajah dan gestur tubuh saya terbaca oleh teman seperjalanan saya, maka saya diberi saran bahwa apabila bersepeda terutama saat menanjak menuju puncak, sebaiknyaa janganlah tergesa untuk mencapai puncaknya, melainkan nikmatilah perjalanan, karena dengan menikmati perjalanan tersebut dengan satu kayuhan ke kayuhan selanjutnya maka akan tidak terasa bahwa akhirnya akan sampai ke puncak juga. Begitu juga dalam menghadapi hidup, filosofi yang sederhana bukan ?

Masih banyak filosofi filosofi atau makna yang akan kita dapat saat kita bersepeda terutama adalah tentang belajar kesabaran, namun saya tidak akan mengupasnya lebih banyak lagi; biarlah bila Anda ingin tahu Anda membuktikannya sendiri.

Jadi,  pertanyaan diawal dari judul tulisan saya diatas bahwa untuk apa sih kita bersepeda jawabannya adalah selain untuk menjaga kesehatan dan memperluas persaudaraan serta bersilaturahmi, yang tidak kalah penting dari itu adalah segenap filosofinya dibalik semua itu.

Sebagai penutup tulisan saya kali ini saya ingin mengutip sebuah kata bijak yang hampir mirip dengan apa yang dikatakan sahabat saya diatas seprti berikut ini :

"Happiness is a journey, not a destination; happiness is to be found along the way not at the end of the road, for then the journey is over and it's too late. The time for happiness is today not tomorrow."

~ Paul H Dunn

Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan, kebahagiaan dapat ditemukan di sepanjang jalan bukan pada ujung jalan (saja), jika tidak demikian, ketika perjalanan telah berakhir semua sudah terlambat. Kebahagiaan adalah saat ini.

Mari kita mulai bersepeda, sebelum terlambat

Cuss !

 

Foto foto Mbah Kung Endy dan dokumentasi pribadi

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas