Artikel

Walikota Jogja Tidak Peduli

Sabtu, 28 Februari 2015 | 11:43:00

Orang-orang yang membuat perubahan bukanlah mereka yang berijazah, tapi mereka yang peduli ( Max Lucado)

Minggu 10 Pebruari 2013 dengan titik kumpul pertigaan terban sebelah barat traffic light, sejumlah komunitas antara lain komunitas pesepeda, komunitas seniman street art, komunitas difable dan juga komunitas reresik sampah visual menggelar kegiatan Merti Kutha.

Adapun kegiatan ini bermula dari bentuk keresahan para pesepeda di Jogja karena makin tidak terperhatikannya keinginan mereka akan perbaikan jalur-jalur sepeda yang semakin menghilang yang kemudian disambut dengan bergabungnya beberapa komunitas yang mempunyai visi sama yaitu menjadikan Jogja sebagai kota yang lebih manusiawi untuk warganya dengan mempunyai ruang publik yang nyaman dan aman.

Nyaman karena bisa menikmati keindaahan suasana taman-taman kota tanpa di ganggu dengan sampah visual yang makin hari makin menjadi dan berjibun bagaikan terror.

Selain mengganggu secara visual sebenarnya juga mengganggu secara mental dan tidak mendidik karena kebanyakan adalah iklan yang mengajak warga masuk ke dalam jebakan konsumerisme.

Aman karena mempunyai ruang khusus yang bisa diakses seperti pesepeda dengan jalur khususnya tanpa khawatir akan ditabrak pengguna jalan yang lain, begitu juga bagi kaum pejalan kaki dan difable yang posisinya makin terpepet manakala trotoar dipakai sebagai lahan parkir motor dan mobil yang saat diadakan kegiatan ini dijumpai pula “sangat” menghalangi para difable untuk melewati atau hanya sekedar memakai jalan yang merupakan “hak mereka”.

Trotoar sebagai "Hak difable" telah diserobot oleh  mobil yang parkir seenaknya.

Sebelumnya, di tengahnya ada mobil yang tentu saja  menutupi akses difable
Dimana nurani berada ... ?

Tiang listrik yang berada ditengah trotoar, sangat menghalangi akses difable.

Pada saat kegiatan ini berlangsung para difable “terpaksa” dibantu teman-teman yang lain turun ke jalan aspal karena trotoar sudah dipenuhi mobil-mobil yang parkir seenaknya. Begitu juga ada trotoar yang ditengahnya ada ditanam tiang listrik, yang tentu saja menghalangi akses jalan para difable

Bayangkan saja, bila tanpa bantuan teman yang tidak berkebutuhan khusus, bagaimana pula mereka akan melanjutkan perjalanan mereka dengan tidak memakai trotoar dan harus turun ke jalan beraspal yang tentu saja sangat beresiko besar bagi keamanan mereka.

Adapun kegiatan tersebut secara garis besar terbagi dalam tiga kategori yaitu

  • Pengecetan jalar-jalur sepeda dan ruang tunggu sepeda,  juga pengecatan rambu untuk difable
  • Pembersihan / pengecatan cagar budaya/heritage dari iklan komersial.
  • Pembersihan sampah-sampah visual berupa reklame, rontek-rontek yang mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat.


Adapun kegiatan tersebut dilakukan dari pertigaan terban kebarat sepanjang Jl Sudirman, Mangkubumi dan berakhir di Jembatan Kewek.

Hasil bersih-bersih yang hanya sepanjang jalar tersebut ternyata cukup banyak, yaitu sekitar 200 buah sampah visual yang diangkut dengan menggunakan mobil.

Sedangkan sampah sampah visual hasil bersih bersih tersebut akhirnya dibawa ke balaikota dan diberikan sebagai hadiah ulang tahun walikota Jogja, dengan jalan menyebarkannya ke segenap sudut halaman didepan kantor walikota. Sebaran sebaran tersebut kalau dilihat bak seni instalasi …

Koordinator bersih bersih sampah yang juga adalah dosen Diskomvis ISI Jogja, Sumbo Tinarbuko mengatakan bahwa kegiatan itu bukan demo melainkan adalah bentuk kecintaan mereka kepada Jogja dan Walikotanya yang sedang ber ulang tahun.

Kegiatan Merti Kutha yang kali ini diikuti sekitar 250 orang akan berlangsung terus menerus dengan atau tanpa bantuan pemerintah., karena kegiatan Merti Kutha ini adalah gerakan kemandirian dan keberdayaan warga kota Jogja

Lalu, pertyanyaannya, dimanakah peran dan kerja pemerintah kota Jogja dan juga Walikotanya untuk melayani kebutuhan dasar masyarakatnya dalam hal kenyamanan dan keamanan di ruang publik selama ini ?

Benarkah Walikota Jogja tidak peduli ?

Saya tidak mengatakan demikian, akan tetapi ada beberapa fakta yang saya belum menemukan jawabannya secara masuk akal sampai tulisan ini saya buat, diantaranya adalah :

  • Sudah sejak tanggal 6 oktober 2012 walikota Jogja menjanjikan akan segera membenahi rambu-rambu dan ruang tunggu sepeda, namun hingga saat ini belum juga direalisasikan; apabila alasannya karena anggarannya belum masuk di tahun 2013, kenapa tidak dianggarkan saat atau setelah walikota menjanjikan kepada pengguna sepeda pada tanggal 6 oktober 2012 untuk “segera” memperbaiki sarana penunjang kenyamanan dan keamanan pesepeda; dan bukan baru dianggarkan setelah ada aksi (lagi) dari teman-teman pesepeda!
  • Sebagaimana yang saya dapatkan informasi dari bapak Sumbo Tinarbuko di sela-sela kegiatan Merti Kutha berlangsung, bapak Walikota juga (pernah) berjanji akan menindak dan membersihkan papan reklame, rontek-rontek dan yang lain di ruang publik, namun pada kenyataannya masih tetap dan makin banyak sampah visual bertebaran dimana-mana. Apabila beralasan dengan masalah kekurangan tenaga, saya yakin bila ada kemauan, sebagian besar warga kota Jogja akan bersedia untuk bekerja bersama memerangi, mencabuti dan membersihkan sampah visual, termasuk teman-teman komunitas diatas yang sudah merelakan waktu tenaga dan juga biaya untuk hal diatas.
  • Kesemrawutan trotoar sebagai lahan parkir motor maupun mobil juga sangat mengganggu akses bagi pejalan kaki dan difable, begitu juga keberadaan tiang listrik di tengah trotoar yang sempit, sangat menyulitkan dan membuat para difable harus berjibaku dan bertaruh nyawa hanya sekedar ingin melewati dan “memakai haknya” berjalan di trotoar.

Seperti kata bijak max lucado bahwa ; Orang-orang yang membuat perubahan bukanlah mereka yang berijazah, tapi mereka yang peduli, maka selain pakar dibidangnya masing-masing, warga Jogja yang telah mengadakan Merti Kutho seperti yang saya uraikan diatas juga mempunyai “rasa kepedulian” yang sangat tinggi pada kota Jogja tercinta.

Nah, bila pemkot menyadari kekuatan gabungan dua hal diatas, rasanya sangat ampuh untuk membuat Jogja menjadi seperti apa yang kita inginkan bersama, Jogja yang mempunyai ruang publik yang nyaman dan aman baik bagi penghuni Jogja sendiri maupun para wisatawan yang akan mengunjungi kota Jogja.

Cukup dengan mengajak bergerak, pasti mereka langsung bergerak, karena mereka adalah warga yang berdaya!

Monggo …

.

Gambar lengkap bisa dilihat di link berikut ini

Merti Kutho, perbaikan jalur sepeda, pejalan kaki dan difable (1),

Merti kutho, sesi reresik sampah visual (2)

Merti Kutho sesi pemantauan Heritage (3)

Merti kutho sie penyerahan sampah ke Balkot

.

Dan unggahan videonya pada kegiatan Merti Kutho tersebut bisa dilihat di link berikut ini :

https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=OPLuzXbq9Fo

Baca juga

Negara membutuhkan anak muda seperti mereka

Dan mereka terus bergerak

Dan silahkan juga simak video yang berikut ini :

https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=DNblLwERqT4

Tulisan HL saya di Kompasiana :
http://regional.kompasiana.com/2013/02/12/walikota-jogja-tidak-peduli--533450.html

Komentar Untuk Berita Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas